Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 02 Mei 2019 15:49 WIB

BEI dan OJK 'Gantung' Nasib Laporan Keuangan Garuda yang Janggal

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Reno Hastukrisnapati Widarto Foto: Reno Hastukrisnapati Widarto
Jakarta - Nasib laporan keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk masih belum mencapai titik terang hingga saat ini. Laporan keuangan ini diduga janggal sehingga ditolak oleh dua komisaris perusahaan.

Otoritas bursa, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah memanggil manajemen Garuda Indonesia pada 30 April 2019 kemarin. Tapi, belum ada informasi yang jelas terkait kelanjutan laporan keuangan Garuda Indonesia.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna saat itu mengatakan, pertemuan berlangsung pada pukul 08.30 hingga 09.30 WIB. Pertemuan ini melibatkan manajemen Garuda Indonesia beserta auditornya.

"Bursa akan mengirimkan permintaan penjelasan pada hari ini. Bursa meminta semua pihak untuk mengacu pada tanggapan perseroan yang akan disampaikan melalui IDXnet (platform Bursa), dan penjelasan dapat dibaca di website Bursa," ujarnya kepada awak media saat itu.

Mengenai kisruh laporan keuangan ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun buka suara. Sama, belum juga ada titik terang kelanjutan nasib laporan keuangan perseroan.



Ketua Dewan Komisaris OJK Wimboh Santoso menerangkan, dalam hal perbedaan pandangan laporan keuangan menyerahkannya ke BEI. Nantinya, hasil verifikasi itu diserahkan ke OJK.

"Dalam hal emiten listed kita meminta Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk melakukan verifikasi kebenaran-kebenaran atau kah perbedaan pendapat tentang laporan keuangan itu," katanya di Gedung Dhanapala, Kementerian Keuangan Jakarta, Kamis (2/5/2019).

"OJK dalam hal ini, meyakini transparansi perusahaan go public, kita meminta SRO di mana BEI melakukan hal itu di lapangan. Hasilnya bisa dilaporkan kepada OJK," sambungnya.

Sementara, terkait dengan penilaian laporan keuangan, dia berharap diselesaikan oleh asosiasi profesi. Wimboh melanjutkan, OJK tak bisa melakukan pengawasan langsung layaknya industri keuangan seperti bank, asuransi, dan lembaga keuangan lainnya. Sementara, saat disinggung soal sanksi jika ada yang salah, Wimboh belum sempat menjawab.

"Kita bukan melakukan pengawasan compliance seperti awasi bank, asuransi atau lembaga pembiayaan. Bukan, beda. Kita awasi karena bukan lembaga jasa keuangan, kita awasi Garuda mematuhi prosedur dalam konteks transparansi dan market conduct dalam rangka audited report," tutupnya.

(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com