Beban Sumalindo Bertambah Rp 10,3-11,4 M Akibat Kenaikan BBM
Selasa, 11 Okt 2005 13:38 WIB
Jakarta - Kenaikan BBM kian menambah berat beban industri. Misalnya saja PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk yang memperkirakan bebannya akan meningkat sekitar Rp 10,3 - Rp 11,4 miliar per bulan akibat kenaikan harga BBM industri khususnya solar. Beban perseroan masih ditambah lagi dengan kenaikan harga bahan baku akibat imbas kenaikan BBM dan nilai tukar rupiah. Sementara harga jual produk Sumalindo tidak mengalami peningkatan.Saat ini perseroan memiliki tiga pabrik yang menyerap BBM sebanyak 2,7-3 juta liter per bulan untuk kebutuhan unit-unit kendaraan dan alat berat. Biaya yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan sampai Rp 18 miliar perbulan."Kenaikan harga BBM khususnya solar untuk industri dari Rp 2.200 per liter menjadi Rp 6.000 per liter dirasakan sangat berat dan akan memberikan dampak kurang positif bagi perseroan," kata Presiden Direktur Sumalindo Amir Sunarko dalam pengumumannya kepada Bursa Efek Jakarta, Selasa (11/10/05).Salah satu pabrik perseroan yang bergerak dibidang kayu olahan ini bahkan masih bergantung penuh pada BBM untuk pengoperasian mesin-mesinnya. Untuk itu, perseroan sedang melakukan penjajakan dengan investor asing guna membangun pembangkit listrik untuk memenuhi kebutuhan energi dari pabrik medium density board (MDF) tersebut. "Power plant yang akan dibangun akan banyak menggunakan batu bara dan untuk sementara seluruhnya akan digunakan untuk kebutuhan listrik pabrik MDF. diharapkan awal tahun depan kerjasama ini dapat terealisasi," ujar Amir.Saat ini, manajemen perseroan sedang menjajaki kerjasama dengan salah satu perguruan tinggi yang meneliti tanaman Jarak Pagar sebagai penganti BBM. Perseroan berencana membangun multi agro dengan memperbanyak tanaman pohon jarak pagar sebagai bahan baku minyak jatropha murni sebagai pengganti BBM jenis solar.
(qom/)











































