Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 21 Jun 2019 13:16 WIB

Rupiah Menguat dan Juara di Asia, Apa Penyebabnya?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Direktur Riset Center of Reforms on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan penguatan nilai rupiah pagi tadi disebabkan oleh kebijakan yang ditempuh oleh Bank Indonesia (BI). Faktor global juga mendukung menguatnya rupiah.

"Saya kira penyebab penguatan rupiah hari ini adalah kebijakan BI kemarin, sementara untuk faktor global tidak ada isu negatif terhadap rupiah," kata Piter saat dihubungi detikFinance, Jumat (21/6/2019).

Piter mengungkapkan, kebijakan penurunan giro wajib minimum 50 basis poin (bps) diapresiasi positif oleh pasar.

"Pasar mengapresiasi positif pilihan kebijakan BI, menahan suku bunga sementara untuk melonggarkan likuiditas dengan menurunkan GWM," jelas dia.



Mengutip data RTI Jumat (21/6/2019), rupiah pagi ini menjadi mata uang yang paling kuat menekan dolar AS setelah berhasil lompat dari level Rp 14.140 ke level Rp 14.075. Dengan demikian rupiah menjadi mata uang paling kuat di Asia berdasarkan nilai tukar terhadap dolar AS.

Penguatan rupiah lebih tajam lagi jika dibandingkan terhadap posisi pada Kamis (20/6) pagi kemarin. Dolar AS kemarin masih berada di level Rp 14.230.

Setelah rupiah, mata uang lainnya yang menekan dolar AS paling dalam pagi ini secara berturut-turut dolar Taiwan, baht Thailand, dolar New Zealand dan dolar Kanada. Adapun dolar AS sendiri hanya berhasil unggul terhadap won Korsel dan ringgit Malaysia.

Sedangkan rupiah hingga pukul 09.50 WIB tercatat masih 'hijau' terhadap seluruh mata uang negara utama dunia. Rupiah paling kuat menekan won Korsel, ringgit Malaysia, peso Filipina, yuan China dan dolar AS.

(kil/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com