Laporan Keuangan Terbukti Cacat, Saham Garuda Langsung Jatuh

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Jumat, 28 Jun 2019 12:03 WIB
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Audit laporan keuangan Garuda Indonesia yang dilakukan oleh Akuntan Publik (AP) Kasner Sirumapea dan Kantor Akuntan Publik (KAP) Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang & Rekan terbukti cacat. Kementerian Keuangan dan OJK menyebut audit laporan keuangan BUMN penerbangan tersebut berpengaruh terhadap opini laporan audit independen.

Hal ini sepertinya direspons negatif oleh pasar. Per pukul 11.40 WIB saham Garuda Indonesia (GIAA) terpantau negatif 22 poin (5,56%) ke level Rp 374/saham.

Mengutip data RTI, Jumat (28/6/2019), saham GIAA hari ini dibuka di level Rp 400. Saham GIAA yang awalnya dibuka hijau akhirnya jatuh pada pukul 09.30 WIB. Saham Garuda bahkan sempat turun hingga 34 poin ke level Rp 366/saham.


Namun jika dihitung selama tahun berjalan, saham Garuda Indonesia hingga 28 Juni tercatat masih menguat 28%. Secara year to date asing tercatat masuk Rp 111 miliar di semua pasar.

Seperti diketahui, tim dari Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (PPPK) telah memutuskan untuk memberikan atau dilakukan pembekuan izin selama 12 bulan terhadap Akuntan Publik Khasner Sirumapea. Selain itu dikenakan pula sanksi administratif berupa denda sebesar Rp 100 juta kepada Garuda atas pelanggaran Peraturan OJK Nomor 29/POJK.04/2016 tentang Laporan TahunanEmiten atau Perusahaan Publik.

Sanksi administratif berupa denda masing-masing sebesar Rp 100 juta juga dilakukan kepada seluruh anggota Direksi Garuda Indonesia dan secara tanggung renteng kepada seluruh anggota Direksi dan Dewan Komisaris Garuda Indonesia yang menandatangani Laporan Tahunan Garuda periode tahun 2018.

Sebelumnya pada 24 April 2019 muncul dugaan kejanggalan pada laporan keuangan Garuda Indonesia tahun buku 2018. Hal ini membuat Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengambil tindakan.

Garuda Indonesia sebelumnya menjalin kerja sama dengan PT Mahata Aero Terknologi. Kerja sama itu nilainya mencapai US$ 239,94 juta atau sekitar Rp 2,98 triliun.

Dana itu masih bersifat piutang tapi sudah diakui oleh Manajemen Garuda Indonesia sebagai pendapatan. Alhasil, pada 2018 secara mengejutkan BUMN maskapai itu meraih laba bersih US$ 809,85 ribu atau setara Rp 11,33 miliar (kurs Rp 14.000).

Kejanggalan ini terendus oleh dua komisaris Garuda. Sehingga keduanya enggan menandatangani laporan keuangan 2018 Garuda Indonesia yakni Chairal Tanjung dan Dony Oskaria.

Kedua komisaris itu merasa keberatan dengan pengakuan pendapatan atas transaksi Perjanjian Kerja Sama Penyediaan Layanan Konektivitas Dalam Penerbangan, antara PT Mahata Aero Teknologi dan Citilink Indonesia. Pengakuan itu dianggap tidak sesuai dengan kaidah pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) nomor 23.

Namun sayang ketika RUPS 24 April 2019, Garuda mengurangi jumlah komisaris. Sehingga Dony Oskaria dicopot dari jabatannya.


Tonton Juga Blusukan Perdana Jonan ke Freeport Usai 51% Sahamnya Dikuasai RI:

[Gambas:Video 20detik]





Simak Video "Pramugari Garuda Pakai Face Shield Ketimbang Baju APD, Ini Kata Dokter"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/ang)