Laba Bersih BEJ 2006 Diproyeksikan Menurun
Rabu, 19 Okt 2005 22:20 WIB
Jakarta - Bursa Efek Jakarta (BEJ) memproyeksikan akan membukukan laba bersih sebelum pajak di tahun 2006 akan lebih rendah dibanding tahun 2005. Hal ini akibat meningkatnya perkiraan beban usaha BEJ di tahun 2006Untuk Laba bersih sebelum pajak tahun 2006 BEJ menargetkan sebesar Rp 13,113 Miliar atau lebih rendah dibandingkan target tahun 2005 sebesar Rp 54,125 miliar. Beban usaha meningkat menjadi Rp 130,595 miliar dibanding target tahun ini sebesar Rp 119,782 miliar."Pengeluaran kita meningkat dan laba kita menurun itu dikarenakan adanya depresisasi dan biaya perawatan (maintanance) terhadap asaet-aset investasi tahun 2005 di tahun 2006 mendatang. Kenaikan biaya juga terjadi akibat naiknya biaya sewa gedung," kata Direktur Utama BEJ Erry Firmansyah usai RUPSLB BEJ yang membahas rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2006 di hotel Gran Melia, Kuningan, Rabu (19/10/05).BEJ juga menurunkan target rata-rata nilai transaksi harian menjadi Rp 1,2 triliun perhari. Menurut Erry, target rata-rata transaksi harian saat ini yang mencapai 1,6 triliun akibat adanya saham crossing dari PT Sampoerna dan beberapa emiten lain. "Normalnya Rp 1,3-1,2 triliun karena itu tahun depan kita tidak terlalu pesimis dan tidak terlalu optimis dengan Rp 1,2 triliun perhari," ujarnya.Ditahun depan BEJ berencana akan berinvestasi sebesar Rp 39,738 miliar. Sebagaian besar akan digunakan untukmeng up grade sistem perdagangan sedangkan sisanya untuk meningkatakan produktivitas dan produk."Rp 22 milyar kita gunakan untuk upgrade sistem perdagangan dari Jakarta Automatic Trading System (JATS) versi 2 menjadi versi 6. Yang sekarang dibeli tahun 1994 dan perlu di upgrade. kita akan open tender nanti mekanismenya akan disusun," jelas Erry.Selain itu, BEJ juga akan mengembangkan produk ditahun 2006 seperti Real Estate Investment Trust (REITs), American Warrant dan Asian Credit Fund. Produk Kontrak Opsi saham (KOS) juga akan dikembangkan lagi."kita tidak akan keluarkan produk seenaknya kita kan lakukan kajian dulu tapi produk REITs dan American Warrant itu adalah produk yang menarik di kawasan asia," tegas Erry.
(atq/)











































