Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 06 Agu 2019 10:13 WIB

Akali Tarif Trump, China Sengaja Lemahkan Yuan

Trio Hamdani - detikFinance
Foto: Dok. Thinkstock Foto: Dok. Thinkstock
Jakarta - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China tambah panas. Kini negeri tirai bambu memulai perang mata uang antara yuan dan dolar AS.

Mengutip CNN, Selasa (6/8/2019), China kelihatannya baru saja melepaskan tembakan pembuka perang mata uang dengan AS, di mana untuk pertama kalinya dalam satu dekade lebih, yuan dibiarkan melemah cukup signifikan terhadap dolar AS pada Senin waktu setempat. Kali pertama dalam satu dekade terakhir, mata uang China berada di titik terendahnya di 7 yuan per dolar AS.

Bank sentral China menyatakan langkah itu sebagian besar mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap proteksionisme perdagangan dan tarif baru di China oleh Presiden AS Donald Trump.


Dengan membiarkan yuan bergerak lebih rendah, China siap untuk menggunakan mata uangnya sebagai senjata dalam perang dagang dengan AS.

Depresiasi mata uang dapat membantu China mengurangi dampak tarif baru AS dengan menjaga ekspornya terjangkau di negeri Paman Sam. Tetapi devaluasi dapat menyebabkan dampak negatif di dalam negerinya. Penurunan nilai yuan juga bisa memicu arus modal keluar dari China dan merusak stabilitas ekonomi.

"Perdebatan tentang intervensi (mata uang) AS akan memanas secara signifikan," kata Kit Juckes, Ahli Strategi di Societe Generale.

Trump dengan cepat menunjukkan bahwa dia tidak tinggal diam. Di Twitter, dia menyebut devaluasi sebagai pelanggaran besar. Meskipun ada bukti yang bertentangan dalam beberapa tahun terakhir, Trump terus mengeluh bahwa China mendevaluasi mata uangnya untuk membuat negaranya lebih kompetitif.

"Saya tidak mengatakan saya tidak akan melakukan sesuatu," kata Trump kepada wartawan.


Untuk membuat dolar AS melemah, pemerintahan Trump secara resmi bisa saja mengumumkan berakhirnya kebijakan dolar AS yang kuat, seperti diperkenalkan pada 1995 di bawah mantan Presiden Bill Clinton.

Trump juga dapat mengarahkan Departemen Keuangan untuk bekerja dengan Federal Reserve Bank untuk menjual dolar AS dalam upaya menurunkan nilai mata uang tersebut.

Tapi yang perlu dicatat, mata uang yang lebih lemah dapat meningkatkan ekspor, tetapi juga membuat impor lebih mahal. Ini dapat menyebabkan inflasi dan menurunkan konsumsi. Harga yang lebih tinggi dapat memaksa bank sentral untuk menaikkan suku bunga dan memukul pertumbuhan ekonomi.

Akali Tarif Trump, China Sengaja Lemahkan Yuan


Simak Video "Jokowi Antisipasi Dampak Perang Dagang AS-China"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com