Beban Meningkat, Indocement Masih Bukukan Laba Rp 538 M

Beban Meningkat, Indocement Masih Bukukan Laba Rp 538 M

- detikFinance
Kamis, 27 Okt 2005 22:08 WIB
Jakarta - Walaupun mengalami peningkatan biaya produksi dan transportasi akibat kenaikan harga BBM, di triwulan ketiga 2005 PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk mencatat laba bersih lebih dari dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu. Per 30 September 2005, Indocement membukukan laba bersih sebesar Rp 538,265 miliar dibanding periode yang sama tahun 2004 sebesar Rp 182,964 miliar. Menurut Direktur Keuangan perseroan, hal ini akibat meningkatnya pendapatan bersih tahun ini menjadi Rp 4,165 triliun dibanding tahun lalu sebesar 3,397 triliun. Kenaikan ini seiring dengan meningkatnya penjualan dalam negeri sebesar 9 persen menjadi 7,4 juta ton. "Karena pasar domestik membutuhkan semen sehingga kita menurunkan ekspor sebesar 28% dan dialihkan ke pasar domestik. Hal ini menambah total penjualan," kata Direktur Keuangan Indocement Christian Kartawijaya dalam konferensi pers di kantornya, Wisma Indocement, Kamis (27/10/05). Selain itu, kenaikan laba bersih juga dipicu oleh rugi selisih kurs tahun ini yang merosot drastis dibanding tahun lalu, yaitu dari Rp 264,463 miliar menjadi Rp 76,511 miliar. Naiknya harga semen sebesar 10-15 persen September lalu juga turut menyumbang naiknya laba bersih perseroan. Namun, akibat kenaikan BBM, perseroan juga mengalami peningkatan beban usaha sebesar 51 persen menjadi Rp 992,838 miliar. Kenaikan terutama akibat naiknya beban transportasi sebesar 30-35 persen dan beban operasional sebesar 15-16 persen. "Namun, kenaikan beban transportasi ini belum termasuk akibat kenaikan BBM bulan oktober. Untuk itu kita akan berhitung lagi," ujar Christian. Beban bunga yang ditanggung perseroan juga ikut meningkat dari Rp 140,887 miliar menjadi Rp 182,480 miliar. Menurut Christian, hal ini akibat kenaikan suku bunga dan peningkatan porsi rupiah dalam utang perseroan dari 2 persen menjadi 33 persen. Hingga triwulan ketiga 2005 jumlah aset perusahaan meningkat tipis menjadi Rp 10,355 triliun. Terdiri dari kewajiban lancar Rp 834,152 miliar, kewajiban tidak lancar Rp 4, 325 triliun dan ekuitas Rp 5,196 triliun. Sementara belanja modal sampai akhir tahun yang ditargetkan sebesar US$ 30 juta baru terpakai US$ 12 juta. untuk tahun depan perseroan menargetkan belanja modal sebesar US$ 50 juta yang sebagian besar digunakan untuk menambah kapasitas produksi. Christian juga menambahkan kondisi triwulan keempat 2005 akan menurun dibanding triwulan ketiga. Hal ini akibat perkiraan tingginya nilai inflasi dan suku bunga. "Inflasi dan suku bunga yang tinggi akan mempengaruhi bidang konstruksi," ujarnya (atq/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads