Masuk Jalur Hijau, IHSG Akhirnya Naik 4 Poin

Masuk Jalur Hijau, IHSG Akhirnya Naik 4 Poin

- detikFinance
Selasa, 15 Nov 2005 16:44 WIB
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya mengalami technical rebound dengan naik 4,343 poin pada level 1.022,076, setelah terus menerus di jalur merah pascalibur Lebaran. "Kenaikan hari ini karena technical rebound, tapi dengan kenaikan hanya 3-4 poin mencerminkan pasar masih ragu apakah kenaikannya sudah confirmed atau belum," kata Edwin Sebayang, analis dari Evergreen Capital, Selasa (15/11/2005). Indeks LQ-45 naik 1,377 poin pada level 218,092, Jakarta Islamic Index (JII) naik 1,296 poin pada level 174,950, Main Board Index (MBX) naik 1,370 poin pada level 278,516, Development Board Index (DBX) naik 0,064 poin pada level 210,125.Perdagangan di pasar reguler relatif sepi dengan transaksi yang terjadi sebanyak 8.354 kali pada volume 1.138.478 lot saham senilai Rp 599,155 miliar. Sebanyak 48 saham naik, 44 saham turun dan 270 saham stagnan.Saham-saham yang naik harganya di top gainer antara lain, Astra Internasional (ASII) naik Rp 150 menjadi Rp 8.450, Indosat (ISAT) naik Rp 100 menjadi Rp 5.100, Telkom (TLKM) naik Rp 100 menjadi Rp 5.075, United Tractors (UNTR) naik Rp 50 menjadi Rp 3.300 dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik Rp 50 menjadi Rp 2.475. Sedangkan saham-saham yang turun harganya di top losser antara lain, International Nickel Corporations (INCO) turun Rp 500 menjadi Rp 11.300, Aneka Tambang (ANTM) turun Rp 50 menjadi Rp 2.400, Bank Danamon (BDMN) turun Rp 50 menjadi Rp 3.400, Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) turun Rp 25 menjadi Rp 2.950 dan Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 20 menjadi Rp 1.180, Menurut Edwin, pelaku pasar saat ini masih wait and see melihat tren suku bunga, apakah kebijakannya negative real interest rate atau positive real interest rate."Inflasi sekarang 17 persen, sedangkan real interest rate itu kisarannya 2 persen, kalau positive real interest rate maka suku bunganya sekitar 19 persen dan kalau negative real interest rate sebesar 15 persen," papar Edwin.Sebenarnya, ungkap Edwin, pasar lebih mengharapkan pemerintah mengeluarkan kebijakan suku bunga negative real interest rate, karena dampaknya jauh lebih kecil dibanding positive real interest rate. Pasalnya, jika kebijakan yang diambil positive real interest rate, maka dampaknya perbankan akan tertekan sangat besar. Sedangkan kalau negative real interest rate, hanya berpengaruh pada nilai tukar rupiah. "Kondisi saat ini rupiah juga melemah tidak terlalu besar karena harga minyak turun di samping konsumsi BBM dalam negeri turun," ujarnya.Pasar juga, kata Edwin, mengharapkan adanya reshuffle kabinet SBY-JK terutama untuk posisi Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan."Tapi kelihatannya tidak mungkin dilakukan karena alasan politis. Jadi sekarang pasar lebih mengharapkan pemerintah mengeluarkan kebijakan suku bunga negative real interest rate ketimbang reshuffle kabinet," katanya. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads