IHSG Kembali Naik 7,4 Poin

IHSG Kembali Naik 7,4 Poin

- detikFinance
Senin, 21 Nov 2005 16:49 WIB
Jakarta - Menjelang penutupan pasar pada awal pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melejit 7,472 poin pada level 1.062,457. Investor masih melakukan pembelian selektif terhadap saham blue chip."Indeks masih positif karena pada pekan lalu penurunannya cukup besar. Hari ini pun naik 7 karena upside closing, karena sebenarnya kenaikan riilnya cuma sebesar 3 poin, baru menjelang penutupan naik 7 poin," kata Edwin Sinaga dari Kuo Capital Raharaja, Senin (21/11/2005). Indeks LQ-45 naik 1,851 poin pada level 227,793, Jakarta Islamic Index (JII) naik 1,686 poin pada level 181,604, Main Board Index (MBX) naik 2,106 poin pada level 290,193, dan Development Board Index (DBX) naik 1,224 poin pada level 215,449.Perdagangan di pasar reguler mencatat transaksi sebanyak 10.981 kali, pada volume 1.663.926 lot saham, senilai Rp 769,639 miliar. Sebanyak 59 saham naik, 49 saham turun dan 254 saham stagnan.Saham-saham yang naik harganya di top gainer antara lain, Astra Internasional (ASII) naik Rp 100 menjadi Rp 9.150, Perusahaan Gas Negara (PGAS) naik Rp 100 menjadi Rp 5.500, Aneka Tambang (ANTM) naik Rp 75 menjadi Rp 2.500, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 50 menjadi Rp 10.750 dan Telkom (TLKM) naik Rp 50 menjadi Rp 5.200. Sedangkan saham-saham yang turun harganya di top loser antara lain, Medco Energi Internasional (MEDC) turun Rp 75 menjadi Rp 3.100, Bank Central Asia (BBCA) turun Rp 25 menjadi Rp 3.150, Gajah Tunggal (GJTL) turun Rp 10 menjadi Rp 510, Ciputra Surya (CTRS) turun Rp 10 menjadi Rp 315, Ramayana Lestari Sentosa (RALS) turun Rp 10 menjadi Rp 690.Menurut Edwin, indeks masih akan bergerak fluktuatif karena dampak dari inflasi dan tingginya suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI).Mengenai rencana penerapan negative real interest rate, yang lebih disukai pasar ketimbang positive real interest rate karena suku bunga tidak akan begitu tinggi, Edwin melihat kebijakan itu ada negatifnya.Pasalnya, secara jangka panjang akan mengakibatkan terjadinya capital outflow yang berimbas negatif bagi perekonmian. Untuk saham perbankan, ia menilai kecenderungannya masih tidak begitu baik karena pengaruh tingginya suku bunga, terutama untuk bank yang LDR dan NPL-nya tinggi. (ir/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads