Telkom Tidak Akan Jual Lagi Saham Hasil Buy Back
Kamis, 24 Nov 2005 13:54 WIB
Jakarta - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) tidak akan menjual lagi saham hasil dari program buy back. Saham itu akan dipegang perusahaan dan menjadi treasury stock."Buy back belum ada rencana dijual lagi jadi masih akan dipegang oleh Telkom," kata Direktur Keuangan Telkom Rinaldi Firmansyah dalam paparan publik di kantor Telkom, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (24/11/2005).Buy back saham ini, ungkap Rinaldi, justru akan menambah persentase dividen bagi pemegang saham baik pemerintah maupun publik. "Kalau sekarang secara persentase pemerintah ibaratnya dapat 51 persen, karena saham yang di-buy back itu treasury stock, jadi tidak mendapat dividen, sehingga porsi dividen akan meningkat," ujar Rinaldi.Program pembelian kembali saham ini, menurut Rinaldi, selain ingin meningkatkan keuntungan pemegang saham juga karena perseroan mengalami kelebihan cash flow. "Kalau kelebihan cash flow penyaluranya akan ke investasi, pembagian dividen dan penggunaan cash flow lain-lain," jelasnya.Mengenai pilihan Telkom melakukan buy back saham ketimbang buy back utang, Rinaldi mengaku, karena kalau buy back utang harus mendapat persetujuan dari kreditor. Namun, Rinaldi memastikan, pelaksanaan buy back utang yang direncanakan akhir tahun ini sebesar US$ 150 juta tetap dilakukan dan tidak terganggu program buy back saham. Telkom berencana membeli 5 persen saham publik dengan dana yang disediakan mencapai Rp 5,250 triliun.Untuk program buy back ini, Telkom menunjuk PT Danareksa Sekuritas sebagai perantara pedagang efek, yang akan dilakukan dalam jangka waktu 18 bulan setelah disetujui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 21 Desember 2005. KinerjaSampai akhir tahun 2005, Telkom memperkirakan pendapatan usaha naik 20 persen ketimbang tahun sebelumnya. Sedangkan rugi kurs tahun ini diperkirakan lebih rendah sebesar 7 persen dibanding tahun lalu yang sebesar 10 persen, sehingga akan membuat perolehan laba bersih menjadi lebih baik.Sedangkan biaya investasi atau capital expenditure (capex) tahun 2006 dianggarkan mencapai Rp 14,5-Rp 19 triliun, naik dibanding tahun 2005 yang sebesar Rp 13 triliun. Sebagian besar capex ini untuk pengembangan seluler, sisanya untuk Fleksi, broad band dan jaringan.
(ir/)











































