Amit-amit, Ini Ciri Investor yang Bisa Jadi Korban Saham Gorengan

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 30 Jan 2020 10:33 WIB
Karyawan mengamati layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (29/09/2014). IHSG berhasil bertahan di zona hijau hingga akhir perdagangan. Indeks itu ditutup pada level 5.142,01 atau rebound 0,18%,Sektor keuangan menjadi pendorong indeks dengan kenaikan 0,77%.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Layaknya makanan gorengan, saham gorengan terlihat begitu menggiurkan. Padahal di dalamnya bisa menyebabkan penyakit-penyakit yang berbahaya.

Saham gorengan biasanya diidentifikasikan sebagai saham yang biasanya diam tiba-tiba bergerak liar. Padahal tidak ada alasan mendasar yang membuat saham itu bergerak, seperti penguatan fundamental ataupun proyek besar.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Laksono Widito Widodo mengatakan, sebenarnya BEI sudah memiliki beberapa prosedur untuk membuka mata investor terhadap saham-saham yang terindikasi di goreng. Biasanya untuk saham yang bergerak liar tanpa alasan yang jelas dijatuhi status Unusual Market Activity (UMA).

Namun sayangnya sering kali pemberian status UMA disalah artikan oleh investor. Mereka terkadang menganggap UMA menjadi patokan untuk membeli saham yang mungkin tengah digoreng.

"Kalau ada UMA oh ini saham lagi digoreng. Jadi kita mesti lihat juga motivasi dari investor ritel tersebut, apakah motifnya berinvestasi atau berspekulasi. Kalau motifnya berspekulasi ya monggo. Tapi kita sudah memberikan warning," ucapnya saat berbincang dengan detikcom.

Nah investor-investor yang memiliki pemikiran itu sebenarnya menjadi target empuk dari pelaku goreng saham. Sebab untuk target dari praktik goreng saham ini adalah investor-investor kecil yang masih awam. Mereka hanya melihat saham yang bergerak tiba-tiba tanpa melihat fundamental perusahaannya

Meski begitu, Laksono tidak menyalahkan investor yang memang bertujuan menjadi spekulan. Namun dirinya berharap investor itu tahu risiko yang bisa saja menimpanya.

"Kalau itu investor spekulan, ya kita tidak bisa menghalangi mereka. Kan motivasi untuk berinvestasi di bursa efek kan macam-macam. Ada yang motivasinya investasi ada yang pure spekulasi. Kalau spekulasi ya kalau rugi jangan teriak-teriak," tuturnya.

Laksono mengakui bahwa produk investasi di pasar modal tidak setenar produk-produk perbankan. Oleh karena itu BEI akan terus melakukan edukasi terhadap investor-investor awam.

"Tantangan kami di BEI dan para SRO secara terus menerus memberikan edukasi tentang bagaimana cara berinvestasi yang sehat atau proper seperti investor lain di negara-negara yang lebih maju. Tapi saham-saham seperti itu tidak hanya di Indonesia, di Hong Kong itu banyak. Jadi tergantung dari behavior dari investor itu sendiri. Tinggal kami di sini memperbaiki market conduct," tutupnya.



Simak Video "Buntut Corona, SoftBank Jual 198 Juta Lembar Saham"
[Gambas:Video 20detik]
(das/dna)