100 Hari Jokowi, Pergerakan IHSG Bikin 'Jantungan'

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 02 Feb 2020 15:30 WIB
Presiden Jokowi di BEI
Foto: Bagus Prihantoro Nugroho
Jakarta -

Sepanjang 100 hari kerja Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak begitu dramatis. Naik turun IHSG seakan bisa membuat para investor 'jantungan'.

Jokowi-Ma'ruf sendiri pertama kali dilantik pada Minggu (20/10/2019). Satu hari setelahnya IHSG berada di posisi 6.198.

Sejak saat itu IHSG cenderung menguat cukup drastis. Pada 24 Oktober 2019 IHSG bahkan menyentuh level 6.339.

Namun keesokan harinya IHSG terjun ke posisi 6.252. Sejak saat itu IHSG bergerak naik turun seperti roller coaster.

Pada November 2019 pergerakan IHSG cenderung mengkhawatirkan lantaran terus menurun, bahkan hingga meninggal level 6.000-an. Pada 28 November 2019 IHSG menyentuh level 5.953.

Memasuki Desember 2019, jantung investor yang sudah dibikin berdebar kembali bisa bernafas lega. IHSG cenderung menguat dan kembali lagiu ke level 6.000-an.

Pada 2 Desember 2019 IHSG sudah menyentuh level 6.130. IHSG terus menanjak dan mencapai level 6.329 pada 27 Desember 2019.

Para pelaku pasar percaya kenaikan IHSG di Desember 2019 lantaran adanya fenomena window dressing. Sebab tidak ada sentimen signifikan.

Window dressing sendiri merupakan aksi strategi dari manajer investasi untuk mempercantik portofolionya. Dengan memiliki dana yang besar tentu para manajer investasi bisa melakukan manuver untuk membuat kinerjanya terlihat cemerlang.

Tren positif IHSG berlanjut ke Januari 2019. Meski masih naik turun IHSG masih bergerak dalam rentang 6.200-6.300 setidaknya selama 2 minggu pertama.

Namun di minggu-minggu terakhir Januari 2020 IHSG terjun bebas lagi. Pada 28 Januari 2020 IHSG sudah menyentuh level 6.111. Bahkan pada 31 Januari 2020 IHSG mengalami penurunan yang sangat dalam yakni 1,94% ke posisi 5.940.

Penurunan IHSG sendiri disebabkan nilai transaksi perdagangan yang semakin sepi. Banyak yang percaya hal itu merupakan imbas dari pecahnya kasus Asuransi Jiwasraya.

Kasus Jiwasraya memang sangat berkaitan dengan pasar modal. Ada beberapa saham yang sudah disuspensi oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berbau Jiwasraya.

Selain itu Kejaksaan Agung dikabarkan juga akan meminta otoritas pasar modal memblokir rekening efek yang kabarnya jumlahnya sangat banyak. Apalagi 2 dari 5 tersangka kasus Jiwasraya merupakan orang tenar di kalangan investor pasar modal.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Laksono Widito Widodo mengakui bahwa rata-rata nilai transaksi harian saham (RNTH) mengalami penurunan yang mencapai 22%. Namun penurunan RNTH ternyata juga dialami negara tetangga.

"Memang kita lagi turun, tapi tidak sendirian turun di ASEAN. Dari 6 negara ASEAN tersebut 4 turun, yang naik 2. Filipina kurang lebih flat. Ini perbandingan RNTH 2019 full year, sama RNTH 2020 year to date. Kalau di Thailand naiknya 18%, itu tertinggi di ASEAN, Filipina hanya naik 0,6%, Singapura turun 7%, Malaysia dan Indonesia sama turun 22%, Vietnam turun 53%. Jadi kalau dibilang turun ya memang turun, tapi secara regional juga turun," tuturnya saat berbincang dengan detikcom.



Simak Video "IHSG Anjlok Karena PSBB Jakarta, PPP: Masyarakat Dulu Baru Ekonomi"
[Gambas:Video 20detik]
(das/dna)