Kena Kasus Pembelian Pesawat Airbus, Saham AirAsia Rontok

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Selasa, 04 Feb 2020 11:46 WIB
AirAsia ikut meramaikan ajang International Paris Air Show 2019 di La Bourget, Paris, Prancis. Maskapai asal Malaysia ini pun memboyong para bidadarinya.
AirAsia di Paris Airshow 2019. Foto: Angga Aliya ZR Firdaus
Jakarta -

AirAsia baru saja ditinggal Tony Fernandes. Pria asal Malaysia ini melepas jabatan direktur eksekutif di maskapai Negeri Jiran itu.

Pengunduran diri ini terkait pemeriksaan otoritas Inggris terhadap kasus jual-beli pesawat Airbus.

Dalam pernyataan tertulis perusahaan ke bursa saham Malaysia yang dikutip dari Financial Times, Selasa (4/1/2020), AirAsia menyatakan Tony Fernandes dan Kamarudin Meranun akan melepaskan posisinya sementara, selama dua bulan atau lebih.

Pengumuman tersebut berimbas buruk kepada saham maskapai berwarna merah tersebut. Saham AirAsia tercatat anjlok hingga 7,81% di perdagangan Bursa Kuala Lumpur (KL) sekitar pukul 12.20 waktu setempat atau sekitar pukul 11.20 WIB.

Awal pekan ini, pada perdagangan Senin saham maskapai yang bermarkas di KL itu juga sudah jatuh 10% merespons diterbitkannya rincian penyelidikan terkait suap Airbus oleh UK's Serious Fraud Office.


Ada dugaan suap US$ 50 juta dari Airbus untuk klub olahraga yang dimiliki dua eksekutif yang tidak disebutkan namanya. Hal ini kemudian dibantah oleh AiAsia.

Seperti apa sih kasusnya? Lihat di halaman berikutnya.

Tony Fernandes, diketahui membeli AirAsia dari pemerintah Malaysia dengan harga kurang dari US$ 1 pada 2001 dan menjadikannya sebagai salah satu maskapai terbesar dunia.

Ia dan Kamarudin merupakan pecinta olahraga dan pernah memiliki tim balap Formula 1 Caterham yang kini sudah tidak ada namun mendapatkan sponsor dari Airbus. Tony dan Kamarudin juga tercatat menjadi pemilik mayoritas klub sepakbola London Queens Park Rangers.

Komisi Anti Korupsi Malaysia mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tengah berkoordinasi dengan pihak berwenang di Inggris yang juga menyelidiki tuduhan tersebut.


Investigator Inggris mengatakan, AirAsia dan AirAsia X memesan 406 pesawat Airbus antara 2005 dan 2014. Sebagai pengambil keputusan utama di AirAsia dan AirAsia X, mereka diduga diberi hadiah dengan pesanan 180 pesawat dari Airbus.

AirAsia mengatakan sponsor Airbus ke tim olahraga merupakan hal yang wajar dan proses sponsorship ini sudah melalui penilaian internal yang wajar. Maskapai Malaysia menolak mengomentari identitas eksekutif yang disebutkan dalam penyelidikan.

(ang/eds)