Astra Agro 'Lirik' Bisnis Karet

Investasikan Rp 1,5 Triliun

Astra Agro 'Lirik' Bisnis Karet

- detikFinance
Selasa, 29 Nov 2005 17:56 WIB
Jakarta - Perusahaan perkebunan sawit PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) berencana melakukan diversifikasi usaha dengan menanam karet selain kelapa sawit. Rencananya pada tahun 2014, total lahan karet akan mencapai 15 ribu hektar dengan total investasi Rp 1,5 triliun. Sehingga ke depan perbandingan bisnis kelapa sawit dan karet akan menjadi 50:50. "Tahun depan rencananya akan mulai menanam karet seluas 5.000 hektar serta melakukan investasi membuat pabrik pengolahan karet terlebih dahulu untuk menampung karet rakyat," kata Benny Tjoeng, Wakil Direktur Utama AALI, dalam paparan publik di Hotel Borobudur Jakarta, Selasa (29/11/2005).Diversifikasi ke bisnis karet ini, menurut Benny, karena melihat pangsa pasar karet ke depan memiliki potensi besar. Apalagi dua penghasil karet terbesar di dunia Malaysia dan Thailand mulai menurunkan produksi karet alamnya.Sementara Dirut AALI Maruli Gultom menambahkan, penanaman karet juga untuk membagi risiko investasi. Seperti untuk mengantisipasi turunnya harga CPO sehingga masih ada komoditas lain yang diunggulkan. "Karena ada kemungkinan harga crude palm oil (CPO) turun melihat demand (permintaan) ke depan banyak, yang diikuti juga oleh suplai yang banyak sehingga ada kemungkinan harga CPO turun," kata Maruli.Sampai Oktober 2005, AALI telah memproduksi tandan buah segar (TBS) sebanyak 2,898 juta ton atau naik 12,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Sedangkan produksi CPO meningkat 9 persen menjadi 700,262 ribu ton.Hingga akhir tahun 20056, AALI menargetkan lahan penanaman sawit sebanyak 15,5 ribu hektar sawit. Sedangkan sampai Oktober lahan yang sudah ditanam mencapai 9,607 ribu hektar.Benny juga menjelaskan, perusahaan menghadapai hambatan sosial dalam pembukaan lahan baru seperti di Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Riau karena diprotes masyarakat."Misalnya di Kalteng kita berencana membuka lahan baru seluas 5.000 hektar, saat ini baru terealisasi 2.700 hektar. Karena ada keluhan dari masyarakat sehingga alat-alat berat tidak bisa bekerja," tutur Benny.Pada tahun 2005 perseroan menganggarkan capital expenditure (capex) sebesar Rp 400 miliar. Sebesar Rp 307,7 miliar sudah digunakan untuk menambah kapasitas pabrik sebanyak 33 persen dan pembangunan pabrik baru 21 persen. Sedangkan untuk tahun 2006 capex dianggarkan sebesar Rp 600 miliar. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads