Tips Pilih Reksa Dana di Tengah Kusutnya IHSG

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 10 Mar 2020 17:34 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga penutupan perdagangan hari ini konsisten bergerak di teritori negatif berbarengan dengan ledakan yang terjadi di Sarinah, Thamrin, Jakarta pusat, siang tadi. Rachman Haryanto/detikcom.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Wabah virus corona dipercaya menjadi salah satu penyebab utama anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini. Dari awal tahun saja IHSG sudah turun 17% lebih.

Jika dilihat dari penurunan IHSG tentu sudah banyak saham-saham yang nilainya murah dan menggiurkan. Tapi kondisi pasar modal belum kondusif. Gejolak masih sering terjadi. Bahkan kemarin IHSG turun 6,5%.

Hal yang sama tentunya juga terjadi di produk reksadana, khususnya reksadana saham. Para manajer investasi saat ini masih wait and see menunggu titik terbawah dari penurunan yang terjadi saat ini.

Direktur Utama PT Danareksa Investment Management (DIM), Marsangap P. Tamba mengatakan, pihaknya saat ini masih belum ambil keputusan untuk belanja saham di pasar modal. DIM akan menunggu keluarnya data pertumbuhan ekonomi kuartal I-2020. Jika tidak seburuk yang diperkirakan maka dipercaya pasar akan rebound.

Meski begitu, bukan berarti produk reksa dana saham saat ini harus dihindari. Menurut Marsangap reksadana saham adalah produk investasi yang wajib dimiliki investor. Sebab produk reksadana saham dengan volatilitas yang tinggi sangat baik untuk investasi jangka panjang.

"Investor ritel itu harus punya reksadana saham. Kan reksa dana saham bergantung pada growth. Nah Indonesia itu semua pihak, semua akademis, analis sebut Indonesia sebagai negara berkembang merupakan salah satu negara yang punya prospek pertumbuhan yang tinggi ke depannya," tuturnya di Penang Bistro Kebon Sirih, Jakarta, Selasa (10/3/2020).

"Jadi harus punya reksadana saham dan the only way satu-satunya cara bisa optimal reksasana saham harus jangka panjang dan regular," tambahnya.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal untuk investasi jangka panjang, Marsangap menyarankan untuk berinvestasi secara reguler. Seperti menabung, membelinya secara rutin meski tidak dalam jumlah yang besar.

Hal itu lebih baik ketimbang langsung menempatkan dana yang besar di reksadana. Menempatkan investasi di reksadana saham secara berkala juga bisa mengurangi risiko nilai pelemahan yang terjadi.

Nah dalam kondisi saat ini, Marsangap menyarankan untuk membeli reksadana saham. Sebab pemerintah dan regulator pasar modal pasti akan melakukan sesuatu dan tidak membiarkan IHSG terus turun.

"Jadi kaya seperti ini IHSG turun 18% wajib beli. Setiap ada koreksi sedalam itu pemerintah pasti ngeluarin kebijakan yang ampuh lah untuk menahan. Seperti kemarin OJK langsung memperbolehkan buyback saham tanpa RUPS," tuturnya.

Dia menekankan, tidak perlu menunggu posisi dasar penurunan IHSG untuk membeli reksadana saham. "Dari pada keker-keker kapan bottom-nya, nggak bakalan tepat, jadi lebih baik reguler saja. Jadi benefit semuanya bisa didapat," tutupnya.



Simak Video "IHSG Anjlok Karena PSBB Jakarta, PPP: Masyarakat Dulu Baru Ekonomi"
[Gambas:Video 20detik]
(das/fdl)