Buyback Saham Bikin Pasar Modal Bergairah?

Tim detikcom - detikFinance
Selasa, 10 Mar 2020 21:30 WIB
Dirut PT Bursa Efek Indonesia Ito Warsito  berbincang dengan President Director PT Soechi Lines Tbk. Go Darmadi dan President Commissioner Paulus Utomo, disela-sela pencatatan saham perdana di Bursa Saham ISHG Jakarta, Rabu (3/12/2014).
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Demi menyelamatkan pasar modal yang sedang terpuruk, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mempermudah proses pembelian kembali (buyback) saham tanpa perlu menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUSPT). Saat ini ada 12 BUMN yang dinyatakan siap untuk melakukan buyback.

Apa langkah ini efektif untuk meredam kepanikan pasar modal?

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee menilai, merebaknya virus corona beberapa waktu terakhir ini menimbulkan kekhawatiran para pelaku pasar. Pelaku pasar khawatir terhadap gangguan ekonomi dan bisnis yang terimbas dari virus corona ini.

"Kepanikan pelaku pasar sering membuat harga saham turun di luar kewajaran dan menjadi terlalu murah. Ketika pasar menjadi panik yang dilakukan sebagian pelaku pasar adalah menjual pada harga berapa pun untuk menghindari kerugian lebih dalam tanpa menyadari dan berpikir berapa nilai wajar saham tersebut," kata Hans dalam keterangannya, Selasa (11/3/2020).

Hans menilai, OJK memahami kondisi pasar keuangan sehingga membuat surat edaran yang mengizinkan emiten atau perusahaan publik melakukan pembelian saham kembali tanpa RUPS. Sebab, biasanya buyback saham dengan persetujuan dari RUPS sering memakan waktu.

"Dengan aturan ini perusahaan publik atau emiten menjadi lebih leluasa melakukan kebijakan buyback ketika merasa harga sahamnya terlalu murah," katanya.

Dia menjelaskan, tujuan perusahaan melakukan buyback saham adalah untuk meningkatkan harga saham yang sudah terlalu murah (undervalue) dan dengan sendirinya meningkatkan nilai pemegang saham.

"Buyback saham meningkatkan demand saham dan ketika supply tetap, maka harga saham akan cenderung naik. Buyback saham juga mengurangi jumlah saham beredar sehingga penghasilan per lembar saham (earning per share-EPS) mengalami kenaikan," jelasnya.

Kenaikan EPS ini, kata Hans, juga mampu mendorong harga saham naik. Buyback saham juga mengurangi arus kas perusahaan sehingga mengurangi potensi masalah.

"Selain itu, ketika sebuah perusahaan melakukan buyback saham, sebenarnya perusahaan tersebut sedang memberikan sinyal kepada pemegang saham bahwa harga saham di pasar sudah murah. Pengelola perusahaan tahu persisi apa isi perusahaan, bagaimana kinerja perusahaan dan bagaimana prospek perusahaan ke depan," katanya.

"Manajemen juga tahu berapa kira-kira valuasi perusahaan dan ketika dirasakan sudah terlalu jauh di atas harga pasar manajemen dapat memutuskan melakukan buyback saham. Hal inilah yang membuat banyak investor asing sangat menyukai perusahaan yang melakukan buyback saham," sambungnya.

Karena itu, tambah Hans, pengumuman buyback saham oleh emiten mampu mengurangi tekanan jual saham dan harusnya membuat pelaku pasar berbalik melakukan pembelian saham. Hal ini mendorong harga saham naik dan menjadi lebih stabil serta dapat menghilangkan kepanikan para pelaku pasar.

"Beberapa emiten telah melakukan buyback saham ketika pasar panik, dan rata-rata aktifitas ini berhasil menaikkan harga saham. Memang beberapa kasus ketika memulai buyback harga saham tidak langsung naik. Butuh waktu tetapi ini membuka peluang emiten melakukan pembelian di beberapa level harga dan sesudah itu harga mulai naik," tuturnya.



Simak Video "IHSG Anjlok Karena PSBB Jakarta, PPP: Masyarakat Dulu Baru Ekonomi"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)