Pasar Modal Anjlok, Pengusaha: Kepercayaan Pasar Dunia Goyah

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 17 Mar 2020 22:00 WIB
Karyawan mengamati layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (29/09/2014). IHSG berhasil bertahan di zona hijau hingga akhir perdagangan. Indeks itu ditutup pada level 5.142,01 atau rebound 0,18%,Sektor keuangan menjadi pendorong indeks dengan kenaikan 0,77%.
Ilustrasi/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Di tengah pandemi virus corona, pasar modal menjadi salah satu sektor yang terhantam habis-habisan. Akibat perekonomian yang goyah, banyak investor yang melakukan aksi jual.

Menurut Ketua Umum Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani, saat ini kondisi seperti itu memang dirasakan di banyak negara. Dia mengatakan langkah Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) dalam memangkas suku bunga pun tidak memberikan sentimen positif ke pasar.

"Ya ini saya rasa terjadi di banyak negara ya walaupun The Fed potong rate sampe 100 basis poin kan. Diharapkan ada penguatan ke pasar modal mereka, tapi tetap percuma," kata Rosan dalam konferensi pers di Menara Kadin Indonesia, Jakarta Selatan, Selasa (17/3/2020).

Rosan menilai saat ini kepercayaan investor global memang sedang turun. Oleh karena itu, kebijakan apapun yang dilakukan percuma.

"Ternyata kalau faktor kepercayaan global market nggak ada, ya semua yang dilakukan percuma. Padahal itu kan kebijakan moneter di Amerika tapi nggak membantu juga, tetap pasar modal turun signifikan," ungkap Rosan.

"Kembali lagi, faktor kepercayaan pasar dunia sedang goyah," pungkasnya.

Pasar modal nasional juga ikut terdampak. Untuk kesekian kalinya, perdagangan saham disetop. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini turun 5%.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan, pada pukul 15.02 waktu JATS, dilakukan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) pada sistem perdagangan yang dipicu penurunan IHSG 5% ke posisi 4.456.

Kembali ke Rosan, di tengah melemahnya pasar modal, pemerintah harus memberikan kebijakan yang tepat pada sektor industri riil. Hal ini dilakukan untuk menjaga perusahaan tetap berjalan, pekerjanya pun tetap mendapatkan upah.

"Kebijakan memang harus tepat sasaran dan jaga agar perekonomian tidak makin menurun. Yang terakhir, insentif pajak bagus karena itu usulan juga dari kami. Tapi kebijakan jaga likuiditas cashflow itu sangat pas," ungkap Rosan.



Simak Video "GoTo Akan IPO, Ini Kata Analis"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)