Jangan Terlena! Penguatan IHSG Cuma Sementara

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 26 Mar 2020 13:50 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 16 poin menutup perdagangan terakhir sebelum libur panjang Lebaran. Transaksi dilantai bursa sudah mulai sepi karena investor sudah merasakan euforia libur panjang, Jumat (2/8/2013).
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini begitu mencengangkan. Hingga sesi I tadi IHSG tercatat menguat 9,7% ke posisi 4.316, bahkan sempat naik 10% lebih. Namun, apakah penguatan ini akan terus berlanjut?

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee menilai penguatan ini hanya bersifat sementara. IHSG menguat ditopang oleh sentimen positif global, terutama pasar saham AS.

"Kalau kita lihat Dow Jones Selasa malam menguat signifikan. Tapi kan kita libur kemarin. Rabu malam juga menguat, makanya hari ini kita menguat," tuturnya kepada detikcom, Kamis (26/3/2020).

Selain itu, sentimen positif dari global juga muncul dari mulai berkurangnya penambahan jumlah penderita COVID-19 di Italia. Hal itu dianggap sebagai titik awal pengurangan wabah hingga akhirnya hilang.

Namun sentimen positif itu tidak dibarengi dengan sentimen dari dalam negeri. Program pembelian kembali atau buyback saham yang dilakukan oleh banyak emiten juga dianggap tidak maksimal mendorong pasar.

"Kalau buyback kan positif tapi butuh waktu karena emiten nunggu harga murah baru beli," tuturnya.

Faktor lain yang cukup penting adalah masalah wabah COVID-19 di dalam negeri. Penderita COVID-19 di Indonesia masih terus bertambah, meskipun sudah diterapkan physical distancing.

"Kita kalau melihat data Indonesia kan susah, karena yang berhenti beraktivitas kalangan atas, kalangan bawah masih beraktivitas. Pasar akan terkejut sedikit kalau jumlah penderitanya meningkat cepat. Jadi saya pikir minggu depan pasar akan terkoreksi lagi," terangnya.

Penguatan IHSG juga diyakini akan diiringi dengan aksi ambil untung yang dilakukan besok. Hans memperkirakan IHSG akan turun kembali ke bawah 4.000-an, meskipun setelah akan terapresiasi lagi.

"Saya selalu melihat indeks kalau sudah di bawah 4.000 market selalu apresiasi beli lagi. Hitungan saya indeks bisa sampai 3.500. Tapi kalau belajar dari krisis di 1998 dan 2008 rata-rata indeks turun 60-an%, kita baru turun 30-40%. Jadi masih lebih aman, lebih baik dari krisis," tutupnya.



Simak Video "Buntut Corona, SoftBank Jual 198 Juta Lembar Saham"
[Gambas:Video 20detik]
(das/fdl)