Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 27 Mar 2020 06:28 WIB

Beda Kondisi Terpuruknya Rupiah Sekarang dan Krismon 98

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Illustrasi Rupiah Terhimpit Dollar Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memang tercatat mengalami pelemahan hingga ke level Rp 16.000an. Hal ini disebabkan oleh penguatan dolar AS yang terus terjadi sejak pertengahan Februari lalu akibat dampak Covid 19 di Indonesia.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan apa yang terjadi saat ini sangat berbeda dengan krisis global 2008 dan krisis Asia pada periode 1997/1998.

"Pada krisis global bagaimana pasar keuangan AS ada Subprime Mortgage dan jadi default sehingga membuat panik di pasar AS, kemudian menjalar ke Eropa dan kita kena dampaknya," kata Perry dalam video conference, Kamis (26/3/2020).

Dia menjelaskan, saat ini bergejolaknya keuangan global terjadi akibat pandemik Covid 19 yang bergerak sangat cepat di Amerika Serikat (AS), Eropa dan Italia yang jumlah kasus kematiannya bahkan lebih tinggi dari China.

Virus ini telah menyebar ke seluruh negara dan membuat panik pasar keuangan global. "Pemilik dana melepas dan menjual aset keuangannya," jelas dia.

Menurut Perry jika dibandingkan dengan periode 1998 lalu, sangat berbeda. Pasalnya jika dulu dolar menyentuh Rp 16.000 dari Rp 2.500.

"Ingat dulu itu dari Rp 2.500 ke Rp 16.000 hampir 8 kali lipat. Sementara sekarang itu dari Rp 13.800 pelemahannya memang 12%, tapi jauh lebih kecil dari kondisi dulu (1998), dan juga kondisi krisis global 2008," jelas dia.

Apalagi saat ini, kondisi perbankan nasional sudah kuat tidak seperti dulu. Dengan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) sebesar 23%. Non performing loan (NPL) 2,5% secara gross dan 1,3% secara net.


Menurut Perry saat ini langkah ekonomi yang diambil sudah cukup baik. Mulai dari kebijakan moneter, stabilitas sistem keuangan (SSK).

"Seluruh dunia mengalami kepanikan. Bank sentral berupaya melonggarkan likuiditas dengan menurunkan suku bunga. Saya tidak katakan ini sudah berakhir tapi sudah lebih mereda dibandingkan 2 minggu lalu, inilah yang kita hadapi," imbuh dia.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Rupiah Keok Dihajar Dolar AS, Tembus Rp 14.500"
[Gambas:Video 20detik]
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com