Saham BUMN Tak Lagi Jadi Penyelamat IHSG

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 27 Apr 2020 04:00 WIB
Karyawan mengamati layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (29/09/2014). IHSG berhasil bertahan di zona hijau hingga akhir perdagangan. Indeks itu ditutup pada level 5.142,01 atau rebound 0,18%,Sektor keuangan menjadi pendorong indeks dengan kenaikan 0,77%.
Ilustrasi/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Sejak diumumkan kasus pertama penderita COVID-19 di Indonesia, pasar modal mengalami gejolak luar biasa. Banyak saham yang terjun bebas, menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun begitu dalam.

Kejatuhan IHSG ini serupa dengan kejadian krisis-krisis sebelumnya. Namun yang berbeda, pada saat pulih nanti, saham-saham BUMN tidak lagi menjadi penggeraknya.

Kepala Riset Praus Capital, Alfred Nainggolan menerangkan, pada krisis 2008 saham-saham BUMN pulih lebih cepat dibandingkan dengan pasar. IHSG butuh 16 bulan untuk pulih, sedangkan saham BUMN saat itu pulih hanya butuh waktu 10 bulan.

"Jadi 10 bulan dari level paling bawah saham BUMN sudah bisa pulih kembali. Pada 2009 saham-saham BUMN sudah pulih, baik itu perbankan, infrastruktur, dan energi," tuturnya saat diskusi virtual, Minggu (26/4/2020).

Tapi kondisi saat ini sedikit berbeda dengan 2020. Saham-saham BUMN diperkirakan tak bisa lagi menjadi penggerak IHSG, malahan pemulihan saham-saham BUMN diprediksi akan lebih lama ketimbang IHSG.

"Saham-saham BUMN akan lebih lama recovery-nya," tuturnya.

Lalu, mengapa saham BUMN tak lagi jadi penyelamat IHSG?

Selanjutnya
Halaman
1 2