Giliran Kuorum, Pemegang Saham Tolak Go Private Aqua
Selasa, 20 Des 2005 14:19 WIB
Jakarta -
Gagal sudah rencana PT Aqua Golden Mississippi Tbk (Aqua) untuk keluar dari bursa alias go private karena pemegang saham dengan telak menolak rencana tersebut.Kegagalan ini adalah yang kedua kalinya, setelah pada tahun 2001 rencana go private juga ditolak pemegang saham.Perjalanan kedua untuk meminta persetujuan go private ini begitu rumit. Dua kali diundang dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB), pemegang saham independen banyak yang tidak hadir.Sehingga dua kali RUPSLB pada 14 November dan 2 Desember 2005 tidak dapat dilaksanakan, karena pemegang saham independen yang hadir kurang dari 75 persen dari jumlah saham publik 6,4 persen.Pada RUPSLB 14 November rapat tidak kuorum karena yang hadir hanya sebanyak 52,74 persen atau 429.527 saham. Sedangkan pada RUPSLB 2 Desember, angka kehadiran menyusut menjadi 39,27 persen atau 319.814 saham.Sementara RUPSLB yang digelar Selasa ini (20/12/2005), rapat bisa kuorum karena pemegang saham independen mencapai 76,88 persen atau secara keseluruhan termasuk pemegang saham mayoritas yang datang sebanyak 98,41 persen.Namun giliran rapat bisa kuorum, pemungutan suara agenda pertama untuk rencana go private hanya disetujui oleh 51,05 persen pemegang saham independen. Karena agenda satu jumlah yang setuju tidak memenuhi syarat, maka agenda kedua perubahan anggaran dasar tidak dilakukan.Tetap Perusahaan PublikSementara Dirut Aqua Willy Sidharta mengatakan, dengan gagalnya persetujuan go private ini maka Aqua akan tetap menjadi perusahaan publik."Dengan tidak disetujuinya go private, Aqua tetap menjadi perusahaan publik. Saham yang disuspensi akan dibuka kembali oleh BEJ," kata Willy usai RUPSLB di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (20/12/2005).Willy menjelaskan, rapat kali ini berlangsung alot karena banyak pertanyaan mengenai harga penawaran Rp 100 ribu yang ditawarkan Aqua."Kemungkinan karena penawaran dianggap terlalu rendah dan penilaian kurang agresif. Padahal penghitungannya sudah mendasarkan pertumbuhan optimum lima tahun ke depan," ujar Willy.Penilaian yang dipakai adalah pertumbuhan volume 13 persen per tahun dalam lima tahun ke depan. Pertumbuhan net income 15 persen per tahun dalam lima tahun serta perpetual growth (jangka panjang) 5 persen."Penilaian kami didasarkan pada pertumbuhan industri," tegas Willy.
(ir/)










































