Ini Dia Investasi Paling Aman di Tengah Krisis

Soraya Novika - detikFinance
Kamis, 28 Mei 2020 18:10 WIB
ilustrasi investasi
Ilustrasi/Foto: iStock
Jakarta -

Pandemi Corona secara tak langsung telah menekan pasar keuangan hampir di seluruh dunia. Kondisi pasar yang terus terkoreksi tentu membuat investor cenderung hati-hati dalam menempatkan dananya dan memilih untuk memegang tunai.

Lalu, adakah instrumen investasi yang aman untuk dipilih selama krisis seperti saat ini?

Menurut Perencana keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari Asad, salah satu instrumen investasi yang paling aman dipilih di saat-saat krisis seperti ini adalah investasi reksa dana pasar uang.

"Reksa dana pasar uang ya lumayan aman sih," ujar Tejasari kepada detikcom, Kamis (28/5/2020).

Lantaran, instrumen investasi satu ini terbilang paling stabil dibanding yang lainnya meski return-nya tak sebesar instrumen lainnya.

"Reksa dana pasar uang paling stabil, nilanya tidak turun saat kondisi kritis seperti saat ini, tapi return-nya tidak besar sekitar 5-6% per tahun," terangnya.

Memilih produk reksa dana pasar saham yang aman pun tidak bisa sembarangan. Menurut Tejasari, reksa dana yang aman adalah yang berbasis (underlying)-nya bukan obligasi korporasi. Lantaran, reksa dana berbasis obligasi korporasi ini memiliki berbagai tantangan mulai dari risiko gagal bayar, risiko likuiditas juga membayangi surat utang korporasi.

"Kalau mau lebih aman saat ini, beli reksa dana yang underlying-nya bukan obligasi korporasi," tandasnya.

Sebagaimana diketahui, baru-baru ini masyarakat kembali digegerkan oleh kasus terkait reksa dana. Salah satu produk reksa dana milik PT Sinarmas Asset Management dikabarkan terkena suspensi atau dibekukan oleh OJK.

Kabar itu digaungkan oleh PT Bibit Tumbuh Bersama (Bibit.id), platform agen penjual produk reksa dana milik Sinarmas.

Bibit mengumumkan kepada para nasabahnya bahwa ada 7 produk reksa dana milik Sinarmas yang disuspensi oleh OJK. Produk-produk itu pun tidak dapat ditransaksikan sementara waktu. Kabar itu tak dibantah pihak Sinarmas. Sinarmas bahkan mengakui bahwa saat ini telah terjadi volatilitas harga obligasi dan likuiditas di pasar yang menjadi ketat secara terbatas, sehingga sulit mencapai harga jual yang wajar.



Simak Video "Setelah Google, Gojek Dapat Investasi dari Facebook dan Paypal"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)