Penjualan Indofarma 2005 Meleset
Kamis, 22 Des 2005 13:14 WIB
Jakarta - Perusahaan farmasi plat merah PT Indofarma Tbk (INAF) hingga akhir tahun diperkirakan hanya bisa mencapai penjualan Rp 608 miliar. Perolehan ini jauh dibawah target awal yang sebesar Rp 700 miliar.Pendapatan yang dibawah target ini, karena sebagian proyek pemerintah mundur, dan proyek makanan pengganti ASI tahun 2004 juga tidak terealisasi."Sehingga penjualan tidak bisa sebesar Rp 700 miliar untuk akhir tahun ini. Kami yakin bisa mencapai Rp 608 miliar," kata Direktur Keuangan Indofarma, Sudibyo, dalam paparan publik di Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Kamis (22/12/2005).Menurut Sudibyo, perkiraan penjualan tahun ini belum memperhitungkan penjualan produk test kit atau alat deteksi terhadap penyakit flu burung bagi hewan, yang diperkirakan mencapai Rp 10 miliar tahun depan.Sudibyo juga mengatakan perseroan tidak bisa mencari margin melalui penjualan Tamiflu. "Karena Tamiflu merupakan obat paten. kalaupun kita produksi kita tidak bisa mencari keuntungan dari situ," ujarnya.Untuk tahun 2006, Indofarma memproyeksikan penjualan mencapai Rp 720 miliar atau tumbuh sekitar 18,4 persen dibanding akhir tahun ini yang diperkirakan mencapai Rp 608 miliar.Sudibyo menjelaskan, dengan proyeksi penjualan tersebut, perseroan mengharapkan bisa membukuan laba bersih sekitar Rp 20 miliar. Laba ini lebih tinggi dibanding tahun ini yang diperkirakan sebesar Rp 17,8 miliar.MergerDisinggung mengenai perkembangan penggabungan usaha dengan PT Kimia Farma Tbk (KAEF), Sudibyo menjawab, saat ini merger masih merupakan wacana di Kementrian BUMN. Meski begitu, Indofarma telah siap melakukannya jika pemerintah meminta merger."Kita sudah melakukan kajian dan juga sudah bicara dengan pihak Indofarma, tinggal menunggu dari pemerintah saja," jelas Sudibyo.
(ir/)











































