Berita Terpopuler Sepekan

Keok Lawan Rupiah, Ada Apa Dengan Dolar AS?

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 07 Jun 2020 12:30 WIB
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin tajam. Saat ini, dolar AS sudah mendekati level Rp 12.900. Selasa (16/12/2014), dolar AS berada di posisi Rp 12.890. Menguat cukup tajam dibandingkan penutupan pasar kemarin yaitu di Rp 12.705.
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Nilai tukar rupiah belakangan ini terus menunjukkan dominasinya terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dari sempat berada di atas level Rp 16.000 kini dolar AS terpuruk di bawah Rp 14.000 bahkan kemarin sempat di level Rp 13.800.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede memandang penguatan rupiah dalam seminggu terakhir lebih disebabkan dolar AS yang melemah. Secara umum dolar AS telah turun 1,7% terhadap mata uang utama selama seminggu ini.

"Pelemahan ini utamanya disebabkan oleh terakumulasinya ekspektasi dari para investor terkait pembukaan ekonomi kembali di berbagai negara Asia. Terbukti dari sisi pasar Asia, sebagian besar mata uang Asia di minggu ini mengalami penguatan, kecuali Yen," terangnya kepada detikcom, Minggu (7/6/2020).

Selain itu, menurutnya ada dorongan terhadap rupiah dari perpindahan aset investor dari India ke Indonesia. Hal itu terjadi lantaran adanya penurunan rating India dari BAA2 menjadi BAA3 dan menurunkan outlooknya dari 'stable' menjadi 'negative'.

Sementara dari sisi domestik dipercayai penguatan Rupiah cenderung disebabkan oleh dimulainya transisi pembukaan PSBB oleh beberapa daerah, seperti DKI Jakarta. Kebijakan ini diharapkan akan mendorong peningkatan produktivitas perekonomian setelah menurun tajam ketika implementasi PSBB di berbagai daerah di Indonesia.

"Jika implementasi PSBB terbatas yang nantinya akan diikuti juga oleh implementasi new normal dapat berjalan dengan baik tanpa menimbulkan kasus baru lagi di kemudian hari, maka aktivitas perekonomian pada kuartal III tahun 2020 diperkirakan akan membaik dibandingkan kuartal II tahun 2020 yang diperkirakan akan mengalami kontraksi dan akan kembali membaik lagi hingga kuartal IV tahun 2020, terangnya.

Sementara Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim dalam risetnya menilai pelemahan dolar AS pada Jumat kemarin disebabkan juga sentimen dari keputusan Bank Sentral Eropa (ECB) yang kembali menggelontorkan stimulus.

"ECB dalam pengumuman kebijakan moneter kemarin malam mengatakan menambah nilai Pandemic Emergency Purchase Programme (PEPP), yakni program pembelian aset (obligasi pemerintah), sebesar 600 miliar euro," terangnya.



Simak Video "Merangkak Naik, Dolar AS ke Level Rp 14.850"
[Gambas:Video 20detik]
(das/dna)