Rupiah Masih Bisa Menguat Lagi, Kok BI Yakin Banget?

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 22 Jun 2020 12:44 WIB
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) siang ini sudah menembus Rp 14.930. Dolar AS bergerak di level Rp 14.820-14.933 hari ini.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Nilai tukar rupiah belakangan ini terus mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Meskipun sebelumnya mata uang Garuda sempat mendominasi.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meyakini hal itu bukan berarti tanda berakhirnya trend penguatan nilai tukar rupiah. Dia yakin rupiah masih bisa menguat lantaran nilainya masih di bawah nilai wajarnya atau undervalue.

"Nilai tukar rupiah masih undervalue, sehingga berpotensi untuk terus menguat dan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional," ujarnya dalam rapat dengan Komisi XI di Gedung DPR, Jakarta, Senin (22/6/2020).

Perry melaporkan nilai tukar rupiah masih tercatat naik 3,26% secara point to point dan naik 5,65% secara rerata dibandingkan level Mei 2020. Hal itu disebabkan berbagai faktor positif termasuk aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan.

"Kami melihat juga berlanjutnya penguatan rupiah dengan tingginya imbal hasil aset keuangan domestik, membaik kepercayaan investor dan menurunnya ketidakpastian pasar keuangan global," terangnya.

Potensi penguatan rupiah diyakininya juga didukung oleh masih rendahnya inflasi, penurunan defisit transaksi berjalan hingga membaiknya risiko di ekonomi global dan domestik.

BI memperkirakan dolar AS rata-rata di 2020 ini berada di kisaran Rp 14.000-14.600. Sementara untuk tahun depan diperkirakan membaik di kisaran Rp 13.700-14.300.



Simak Video "Sri Mulyani: Tren Ekonomi Positif, Sempat Tertekan Akibat PSBB DKI"
[Gambas:Video 20detik]
(das/dna)