Berharap Tak Ada Lagi Guncangan

Catatan BEJ Tahun 2005 (2)

Berharap Tak Ada Lagi Guncangan

- detikFinance
Selasa, 27 Des 2005 11:55 WIB
Jakarta - Tahun 2005 boleh dikatakan tahun penuh cobaan untuk Bursa Efek Jakarta (BEJ). Diwarnai euforia pada awal tahun, optimisme itu akhirnya tumbang oleh berbagai guncangan ekonomi yang dimulai pada pertengahan tahun 2005.BEJ akhirnya menjadi 'korban' dari keganasan lonjakan harga minyak. Saat harga minyak melonjak yang memicu kenaikan harga BBM dan menimbulkan ketidakpastian ekonomi, pelaku pasar pun berbondong-bondong keluar dari bursa.Hal itu memaksa BEJ merevisi target-targetnya. Padahal bursa terbesar di Indonesia ini sudah berjuang mati-matian untuk mempertahankan eksistensinya.Melihat kondisi yang cukup 'melelahkan' di tahun 2005, BEJ hanya berharap tak ada lagi guncangan-guncangan perekonomian di tahun 2006. Dan untuk terus survive serta bersaing dengan bursa-bursa luar yang kian canggih, BEJ pun sudah menyusun sejumlah langkahnya.Berikut petikan wawancara khusus wartawan detikcom dengan Dirut BEJ Erry Firmansyah yang dilakukan Rabu (21/12/2005) lalu. Di ruang rapatnya yang cukup nyaman, Erry membeberkan sejumlah langkah agar BEJ lebih 'bergigi' di tahun 2006.Berikut wawancaranya:Bagaimana kondisi makro ekonomi tahun 2006?Stabilitas makro merupakan daya yang mendorong pertumbuhan. Pengaruh dari luar juga sangat tinggi. Mengenai the Fed kan sudah 4,25 persen. Kalau saya tidak salah, Alan Greenspan (Gubernur Fed) akan diganti. Kalau saya tidak salah penggantinya kan tidak terlalu ingin menaikkan tingkat bunga.Kita berharap moneter dan minyak bumi akan lebih stabil tahun depan. Kalau tidak ada accident seperti Katrina akan stabil, semester II-2006 pasar akan lebih bagus lagi. Di semester pertama pasar akan lebih tough.Kalau analisanya sih cukup berani ada yang bilang (IHSG) bisa sampai 1600, karena mereka lihat pasar kita masih didiskon oleh para investor. Sebelum krisis pasar kita pasar premium, kalau dikasih premium, pasar kita bisa tumbuh di atas 20 persen. Kita harus tunjukkan optimisme kita. Kita harapkan di kuartal 3 dan 4 bisa jauh lebih bagus tumbuhnya.Dengan kondisi sekarang banyak yang cenderung cari pinjaman di luar?Dengan inflasi 17-18 persen dengan tingkat bunga 13 orang kan negative spread, uang kita secara tidak sadar berkurang sehingga perlu cari investasi yang lebih baik tahun depan.Bahkan kalau kita lihat di reksa dana fix income ternyata investor kita belum terbiasa. Nah mereka lihat reksa dana equity mudah dan gampang karena tercermin dari indeks, yang kita dengar mereka akan banyak melakukan reksa dana equity di 2006 yang mendorong likuiditas dan pertumbuhan pasar kita.Investor asing masih optimistis tahun depan untuk investasi?Masih. Tapi kembali lagi bagaimana penanganan fiskal moneter kita di 2006. Kalau kita lihat tim ekonomi sekarang kan ada optimisme.Bagaimana perdagangan dan likuiditas tahun 2006?Likuiditas dan perdagangan akan kita tingkatkan. Peran investor domestik juga kita akan tingkatkan, dengan sosialisasi ke berbagai daerah, PIPM, pojok BEJ dan belakangan pembentukan Investor Club di Jakarta, Pekanbaru, Surabaya dan Batam. Perannya menghimpun investor di daerah, kita bina.Tiap kita sosialisasi kita coba bangun Investor Club. Kita juga sudah kaji mengenai short selling. Kita lihat ini bisa dorong peningkatan likuiditas, karena orang bisa jual beli tanpa ada saham, tapi kita bisa terapkan securities lending borrowing (SLB). Nanti bisa pinjam di sana. Ini bisa meningkatkan perdagangan sampai dua kali.Investor Club itu dalam rangka target 2 juta investor 2008? Apalagi?Banyak hal yang kita lakukan sosialisasi, lewat radio juga, Riau TV. Kalau iklan kita harus pilih karena tidak murah, efektivitasnya kita lihat. Mungkin akan seperti iklan layanan masyarakat untuk perkenalkan bursa. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads