Catatan BES Tahun 2005 (1)
Minim Dukungan, Terus Bertahan
Rabu, 28 Des 2005 15:07 WIB
Jakarta - Tekad Bursa Efek Surabaya (BES) untuk menjadi bursa obligasi terbesar di Indonesia masih sebatas impian. Keinginan besar ini terpaksa dijalankan sendiri di tengah minimnya dukungan dan ketidakjelasan Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) terhadap eksistensi BES.Besarnya volume transaksi perdagangan obligasi membuat banyak pihak ingin masuk ke pasar ini. BES yang menjadi pelopor perdagangan obligasi harus bersaing dengan Himpunan Pedagang Surat Utang Negara (Himdasun) dan rencana Bursa Efek Jakarta (BEJ) masuk di perdagangan surat utang ini.Dalam tiga tahun terakhir perdagangan obligasi telah menjadi penyelamat bertahannya BES. Pasalnya, transaksi saham dan produk derivatif yang juga dikelola BES sulit untuk diandalkan karena kalah bersaing dengan BEJ dan Bursa Berjangka Jakarta (BBJ).Untuk mengetahui transaksi BES sepanjang 2005, berikut nukilan wawancara detikcom dengan Dirut BES Bastian Purnama.Target BES sampai akhir tahun ini seperti apa ? Target BES mudah-mudahan pada akhir tahun ini sesuai dengan rencana kerja anggaran tahunan (RKAT) bisa tercapai.Untuk obligasi yang menjadi masalah adalah market, karena enggak semua melapor ke kita, yang lapor hanya 20-30 persen, jadi susah juga ngomong tercapai atau tidak targetnya. Jumlah emisinya kita tergetkan 24 tapi tercapainya 20 emiten. Untuk pasar derivatif, apakah kondisinya membaik?Derivatif perlu banyak edukasi. Rencananya kita akan munculkan lagi produk baru single stock future (SSF), kalau ini per jenis saham, jadi derivatif untuk single stock.Kendala untuk produk derivatif itu apa ?Belum banyak yang kenal dan belum banyak broker yang terjun disini. Mungkin seperti telur dan ayam, barang baru seperti itu kalau ditunggu ramai baru ikut kapan ramainya. Kalau kita sosialisasi tentu ada stock exchange game, kita training reguler, kita training ke mahasiswa. Tadinya ramai, begitu lotnya jadi 500 ribu kemahalan kita turunin lagi jadi minimal 100 ribu tapi mahasiswanya keburu hilang. sebenarnya masih terus jalan.Rencana peluncuran single stock future itu tahun depan ?Peraturannya sudah turun dari Bapepam tapi lisensinya ada di BEJ. Rencananya kita ajak BEJ untuk dijadikan produk bersama, karena enggak mudah memasarkannya. Saat ini banyak emiten yang memilih hanya single listing, apa karena biaya untuk listing di dua tempat mahal ?Cost kan relatif, minimum kan Rp 5 juta dan paling tinggi Rp 25 juta, jadi mahal dimana. Apa perlu BES kasih insentif supaya banyak yang listing di BES ?Perlu ketegasan juga apakah kita harus memilah-milah pasar. Kita hanya obligasi dan derivatif, BEJ saham, karena dikita saham enggak jalan. Kita juga bisa buat terobosan dengan perpanjangan jam trading, nantinya fee lebih murah tapi jadi kesannya bersaing.Selama ini perjalanan saham di BES tidak likuid, bisakah BES difokuskan pada core bisnis di obligasi. Untuk derivatifnya bagaimana ?Masalahnya perlakuannya tidak sama untuk BES, kalau semua transaksi ke bursa untuk obligasi, kita bisa fokus disana. Surat Utang Negara (SUN) dan korporasi kan market cap-nya lumayan, Rp 460 triliun. Transaksi hariannya kan katanya diluar Rp 2-3 triliun. Memang yang laporan ke bursa kan hanya 10-20 persen tapi dengan segitu kita masih bisa hidup. Strateginya bagaimana agar ada payung hukum yang melindungi.Ada upaya agar seluruh transaksi obligasi bisa dilaporkan ke bursa ?Kita belajar dari pengalaman yang kemarin, harga yang menetukan tidak dibursa tapi real over the counter (OTC) dan tidak diregulasi akibatnya harga terpuruk. Sedangkan common practice transaksi obligasi di bursa, OTC pun harus lapor ke bursa. Kalau yang jadi acuan Nasdaq, mereka disana ada aturan 90 second rule yakni setelah OTC dalam 90 detik harus lapor ke bursa. Ini untuk price discovery, apalagi real time, jadi orang bisa monitor harga obligasinya sepanjang hari. Ini masalah transparansi.Apakah bisa dipantau dari sisi sistem otomatic price discovery untuk yang OTC jadi tidak perlu lapor ke bursa ?Kan ada feature di sistem kalau kita mau negosiasi, bid aja, mau confirm quotation juga sudah ada. Masalahnya mau diatur atau tidak. Masalah transparansi dan kewajaran, kalau sudah transparan otomatis akan likuid karena di satu tempat. Misalnya di BEJ, coba ada lebih dari dua orang akan bingung pilih pasarnya yang mana. Di kita memang jangankan dua, satu pun market cap-nya masih kecil. Kalau di Amerika ada banyak bursanya karena perusahaannya ribuan yang listing sedangkan yang nonlisting pun investornya minta supaya transaksinya lewat bursa karena butuh price discovery. Sudah ada komunikasi mengenai masalah ini dengan otoritas pengawas ?Kita tidak henti-hentinya berupaya, saya kira Pak Darmin (Ketua Bapepam Darmin Nasution) juga sudah aware ini harus diperbaiki. Karena sekarang dengan peraturan Bapepam IV.C.2, hanya harga kuotasi, harga yang belum terjadi. Harga dari Manajer Investasi (MI) masing-masing untuk setiap portofolio yang mereka punya baik korporasi maupun SUN. Mana yang lebih wajar dengan harga yang terjadi di pasar. Artinya ada peraturan yang harus mengatur marked to market jadi peraturannya perlu dibenahi. MI tidak perlu lagi bikin kuotasi, tinggal ambil dari bursa untuk marked to market. MI juga bisa pertanggungjawabkan dengan jelas ke investor, kalau aneh tanya ke bursa. Sekarang mereka yang dipertanyakan Bapepam, harga mana yang mereka quote. Ternyata MI juga tidak ikuti harga kuotasi, yang menurut mereka juga tidak wajar. Jadi makin tidak wajar karena mereka tidak mau ikuti harga kuotasi yang tidak wajar. Harga kuotasi tidak mencerminkan harga pasar. Katakan harganya 70, waktu mau dijual tidak ada yang mau beli, ada yang nawar 60 demikian juga yang dimark up.Apa ada pihak yang tidak mau terbentuknya price discovery ?Bagi mereka sebagi broker, mereka kan cari untung dari penjual dan pembeli. Kalau harganya enggak jelas yang beli pembeli dan penjual. Broker yang menetukan harga, sedangkan pembeli tidak tahu harga pokok, sehingga spreadnya seenak brokernya. Kepentingan investor tidak terlindungi karena tidak transparan. MI juga dulu bermain, ini bumerang. Dulu bisa untung besar dengan ini, memang ini yang belum diungkap yang kontra dengan bursa karena pedagang mau untung sebesarnya.Tahun depan Bapepam mau benahi peraturan dan akan membentuk primary dealer, Himdasun dan Dirjen Perbendaharaan Surat Utang Negara diajak, apakah BES juga diajak ?Pak Darmin juga sudah bilang ke kita supaya perdagangan dibursa. Tapi dia ingin dengar para pelaku. Menurut saya dengar kata hati nurani.Himdasun kan pelaku, bukan anggota Self Regulation Otrganization (SRO), Bapepam harus dalam konteks apa?Bagi kita, silahkan saja. Memang nature bonds adalah OTC. Mau namanya Himdasun ada banyak Himdasun. Sedangkan Himdasun sendiri kan baru 25 anggotanya, diluar itu kan masih banyak. Tapi yang menikmati kegelapan itu kan Himdasun. Korbannya ratusan ribu investor di reksadana. enggak bisa di surveilance juga karena mereka bukan SRO seperti kita. Kalau SRO maka Bapepam tinggal jewer kuping. Kita kan ada aturannya turun naik harga, ada batasnya kalau lebih ketatanya ada apa. Kalau perlu kita tahan, saham juga gitu. kalau begitu Bapepam tinggal bumper saja kalau ada kejadian luar biasa seperti transaksi semu. Kalau terjadi transaksi yang drastis, bursa yang duluan. Mereka silahkan saja untuk transaksi pakai sistem apa, tapi setelah transaksi mereka harus lapor. Mereka tidak lapor karena belum diatur, ini wewenang otoritas. Kebijakan Bapepam, bursa mau difungsikan atau tidak untuk transparansi harga. Saham kan sama juga, misalnya transaksi Sampoerna dengan Philip Morris kan OTC di london. Setelah selesai mereka lapor namanya crossing.Di kita juga sama, kenapa bond tidak diperlakukan sama. Ini kan sama-sama surat berharga. Ke depannya saya harap diatur. Kenapa lambat di Bapepam ? Tanya ke Bapepam, kalau investor kan maunya transparan. Bursa juga bisa diakses semua orang. Sedangkan Himdasun tidak bisa diakses semua orang hanya yang punya Bloomberg saja, bank saja belum semua punya kecuali yang besar-besar karena mahal.Sejak kapan minta ke Bapepam ?Sekarang pun masih, tanya ke Pak Darmin saja. Kalau pembentukan harga tidak dibenahi saya kira tahun depan pasar obligasi tidak akan bangkit. Karena yang beli SUN sekarang kan di harga murah sampai 20 persen yield-nya, ngapain dijual. Bank dua kali untung, harusnya melakukan intermediating tapi dia beliin SUN. Ini musti diungkap.
(ir/)











































