Catatan BES Tahun 2005 (2)
Obligasi Ritel Primadona 2006
Kamis, 29 Des 2005 10:36 WIB
Jakarta - Setelah menggarap transaksi obligasi dengan nilai nominal besar, Bursa Efek Surabaya (BES) juga mulai melirik obligasi ritel yang diharapkan bisa menjadiandalan di tahun 2006.Obligasi ritel sangat potensial mengingat jumlah penduduk Indonesia yang sangat gemuk. Sementara potensi investor yang ingin membeli obligasi dengan nominal kecil belum tergarap hingga saat ini. Peluang inilah yang ditangkap BES, nantinya investor tidak lagi menunggu punya dana ratusan juta untuk membeli obligasi.BES juga telah memiliki fasilitas obligasi ritel dengan transaksi obligasi ritel pertama PT U Finance Indonesia I di BES tanggal 27 Desember.Untuk mengetahui pasar obligasi ritel 2006, berikut perbincangan wartawan detikcom dengan Dirut BES Bastian Purnama.Obligasi ritel perkembangannya bagaimana ?Sudah mulai, pada 27 Desember ini U Finance Indonesia menjadi obligasi ritel pertama, bunganya 19 persen dan issue hanya untuk 1,5 tahun dan hanya sejumlah Rp 50 miliar. Penjaminnya Nikko Securities. Untuk Surat Utang Negara (SUN) ritel akan segera jalan kalau tidak Januari ya Februari tahun depan. Ini adalah concern dari Menteri Keuangan yang baru, yang ingin perdagangan SUN dibenahi. Kalau SUN ritel tujuannya pemerataan kepemilikan. Apakah obligasi ritel akan diperdagangkan semua di bursa ?Sudah keluar peraturannya KMK No 447, semua transaksi SUN ritel itu di bursa, kalau tidak transparan kemana mereka mau jual. Belinya gampang, kalau tidak ada pasarnya dimana mereka mau jual. Kedua, pemerintah membaginya menjadi dua, ritel dan whole seller, yang whole seller silahkan lewat Over The Counter (OTC) tapi harus tetap lapor ke bursa, supaya likuid.Pembagian antara perdagangan SUN ritel dan whole sell?Belum tau itu kebijakan Dirjen Perbendaharaan Negara dan itu sedang mereka kerjakan dan sudah dapet mandat dari Menkeu yang baru. Ini harus segera dibenahi untuk tambal APBN. Kalau dicorner bayar bunganya harus tinggi. Sebelumnya dengan bunga 13 persen pemerintah tidak mau keluarkan, tapi sekarang karena kondisinya sperti ini. Satu lagi yang berkepentingan adalah Bank Indonesia (BI) untuk transparansi dan BI perlu untuk pembukuan di neraca pembayaran. BI juga memonitor perdagangan SUN, apakah di beli asing atau lokal. Karena pengaruhi neraca pembayaran Indonesia jadi ini moneter. Kedua, supaya bisa memonitor tingkat suku bunga maka BI juga berkepentingan.Jadi perdagangan SUN ritel akan siap Januari atau Februari ?Begitu peraturannya siap, jalan. Masalah yang mengganjal di obligasi ritel ini apa ?Sebenarnya supaya lebih likuid, masalah pajak itu harus dikurangi terutama capital gain supaya nihil, kan sudah cukup bunganya yang dipajaki. Karena keuntungan dari obligasi tidak sebesar dari saham. Saham kan bisa sampai 100 persen, kalau obligasi cuma spread dari yield-nya saja, kalau soal likuid kan jelas. Emiten juga mudah mengeluarkan dan ada benchmark mau berapa persen keluarkan untukemisi baru. Kalau emiten keluarkan obligasi untuk modal kerja perusahaan jalan karena pajak perusahaan didapat pemerintah. Kedua kita mengurangi penganguransecara snow ball.Pengaturan pajak ini dimasukkan dalam RUU Pajak yang baru ?Kita usul seperti saham yakni final 0,001 persen. Memang kelihatan kecil tapi kalau transaksinya Rp 2 triliun tiap hari besar. Siapa yang jual yang belikena. Dulu saham waktu kena final seperti obligasi enggak likuid. Sekarang diatur 0,1 persen pajak transaksinya selesai. Pajak juga akan mudah dimonitor karena sistemnya ada dan datanya terekam. Kalau bisa bersamaan adanya transparansi dengan pembentukan primary dealer,karena primary dealer akan menjamin likuiditas pasar juga, baik di pasarprimer maupun di pasar sekunder sebagai standby buyer. Kalau ini jalan, transaksi melalui bursa otomatis likuid. tidak ada harga yang dicorner.Kondisi pasar obligasi tahun depan akan seperti apa ?Kalau lihat target inflasi dari Bank Indonesia (BI) 7 persen dengan melihat ini maka suku bunga akan cenderung turun. Tapi obligasi baru bergairah kalau pasar ada dan sudah siap, itu telah ada di BES dengan fasilitasnya. Kita juga tidak eksklusif, silahkan kita transparan.Target pertumbuhan tahun depan ?Profit kita paling naik 10 persen, itu pun dari yang lapor ke kita bukan mengcapture semua. Untuk transaksi juga naik 10 persen begitu juga untuk korparasi, derivatif juga sama. Itu moderat lah tidak pesimis. Target emisi obligasi ritel itu apakah dengan target emisi 24 obligasi ? Kalau untuk yang ritel itu kita yang atur. Karena kita sebagai bursa dan emiten yang listing akan kita yang atur.Ada hambatan lain untuk transaksi obligasi ritel ?Yang diperlukan adalah sosialisasi, saat ini belum gencar disosialisasikan karena mekasnismenya sedang kita siapkan.
(ir/)











































