Tembus Level 1.200, Indeks Saham Ukir Rekor Baru

Tembus Level 1.200, Indeks Saham Ukir Rekor Baru

- detikFinance
Rabu, 04 Jan 2006 16:26 WIB
Jakarta - Untuk pertamakalinya dalam sejarah Bursa Efek Jakarta (BEJ), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tembus ke level 1.200 yang merupakan rekor tertingginya selama ini. IHSG membumbung tinggi hingga 27,009 poin atau 2,28 persen ke level psikologis baru 1.211,699.Sebelumnya pelaku pasar berharap level 1.200 bisa tercapai tahun lalu, namun pada tahun kemarin rekor tertinggi IHSG hanya mencapai level 1.192,203 yang terjadi pada 3 Agustus 2005. Penguatan IHSG ini didorong oleh faktor january effect dan penguatan nilai tukar rupiah rupiah. Selain itu, kondisi makro ekonomi yang mencatat deflasi 0,04 persen pada Desember juga turut memberikan sentimen positif di pasar.Indeks LQ-45 naik 6,839 poin pada level 266,808, Jakarta Islamic Index (JII) naik 3,541 poin pada level 207,257, Main Board Index (MBX) naik 8,195 poin pada level 334,703, Development Board Index (DBX) naik 2,098 poin pada level 229,623.Perdagangan di pasar reguler mencatat transaksi sebanyak 26.723 kali, dengan volume 3.379.890 lot saham senilai Rp 1,973 triliun. Sebanyak 98 saham naik, 37 saham turun dan 228 saham stagnan.Saham-saham yang menjadi jawara di top gainer antara lain, International Nickel Indonesia (INCO) naik Rp 450 menjadi Rp 13.700, Astra Internasional (ASII) naik Rp 300 menjadi Rp 10.500, Bank Central Asia (BBCA) naik Rp 200 menjadi Rp 3.675, Aneka Tambang (ANTM) naik Rp 175 menjadi Rp 3.700, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik Rp 175 menjadi Rp 3.350, Medco Energi Internasional (MEDC) naik Rp 100 menjadi Rp 3.500, Telkom (TLKM) naik Rp 50 menjadi Rp 6.200. Sedangkan saham-saham yang turun harganya di top losser antara lain, Enseval Megatrading (EPMT) turun Rp 20 menjadi Rp 720, Bumi Resources (BUMI) turun Rp 10 menjadi Rp 760, Bank Permata (BNLI) turun Rp 10 menjadi Rp 730, Pembangunan Jaya Ancol (PJAA) turun Rp 10 menjadi Rp 890 dan Davomas Abadi (DAV) turun Rp 5 menjadi Rp 80. "January effect sepertinya sudah mulai terlihat dalam perdagangan di BEJ hari ini," ujar Edwin Sinaga, dari Kuo Capital Raharja, Rabu (4/1/2006).January effect,/i> merupakan kecenderungan meningkatnya pasar saham pada pekan awal di bulan Januari. Biasanya investor cenderung melakukan pembelian yang cukup signifikan untuk koleksi portofolio investasi.Menurut Edwin, sampai akhir bulan Januari, IHSG masih memiliki kecenderungan menguat hingga level 1.250. Menurut Edwin, saat ini yang justru banyak bermaian adalah investor lokal ketimbang investor asing."Mungkin karena bursa asing banyak yang belum aktif. Tapi Kecenderungan investor lokal adalah short term, jadi masih bisa fluktuatif," jelas Edwin.Edwin juga mengatakan saham yang layak dikoleksi diawal tahun ini adalah saham-saham pertambangan dan properti. Menurutnya hal ini karena harga komoditas pertambangan sedang tinggi."Laporan keuangan 2005 akan keluar bulan Februari dan Maret, karena harga komoditi cukup tinggi maka akan berpengaruh terhadap keuntungan dan pembagian dividen," kata Edwin.Sedangkan untuk sektor properti yang diprediksi akan lesu tahun ini akibat suku bunga yang tinggi, Edwin justru berpendapat lain. Menurutnya, investor juga harus melihat nett asset value per share perusahaan yang bergerak dibidang properti."Tidak ada bukti signifikan yang mengatakan kenaikan suku bunga berkorelasi dengan penjualan properti. Saat ini nett asset value per share grup Ciputra dan Duta Pertiwi misalnya cukup bagus," katanya. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads