Indeks S&P 500 Gagal Cetak Rekor

Trio Hamdani - detikFinance
Rabu, 12 Agu 2020 09:04 WIB
Pengunjung berada di sekitar layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (13/2). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini pukul 12.00 menurun-0,67% ke posisi 5,873,30. Pergerakan IHSG ini masih dipengaruhi oleh sentimen atas ketakutan pasar akan penyebaran wabah virus corona.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Indeks S&P 500 pada bursa saham Amerika Serikat (AS) gagal mencapai rekor tertinggi pada perdagangan Selasa. Namun S&P 500 sudah sangat dekat dengan rekor tertinggi baru, pertama sejak pandemi melanda dan melampaui level tertinggi sepanjang masa sejak Februari.

Mengutip CNN, Rabu (12/8/2020), indeks saham gagal mencapai puncak baru pada hari Selasa, tetapi hanya tinggal beberapa langkah lagi. Angka penutupan indeks S&P 500 pada Selasa adalah 3.385,15, turun 0,8%, membalikkan kenaikan sebelumnya dan jatuh lebih dari 50 poin, mengakhiri hari sekitar 1,5% dari pencapaiannya.

Meskipun indeks mendekati rekor, itu belum memenuhi definisi bullish market baru. CFRA Research mendefinisikan pasar bullish sebagai reli 20% dari level terendah sebelumnya yang tidak dilemahkan dalam enam bulan.

Sedangkan indeks S&P masih kurang dari pasar bullish menurut itu. Tetapi kemungkinan besar hal tersebut akan terjadi, kecuali jika pasar tiba-tiba ambruk dalam beberapa minggu ke depan.

Namun pada bulan April, S&P 500 telah rebound 20% dari posisi terendahnya, menempatkannya di jalur bullish baru.

Pasar terus menguat sejak saat itu, didorong oleh stimulus fiskal dan moneter yang belum pernah terjadi sebelumnya, serta harapan untuk rebound ekonomi dan reli di sektor-sektor tertentu, termasuk teknologi. S&P 500 sekarang naik 3,2% untuk tahun ini.

Senin malam, Presiden AS Donald Trump mengatakan Gedung Putih sedang mempertimbangkan pemotongan pajak capital gain, yang memberi secercah harapan bagi Wall Street.

Sejak negosiasi kongres untuk paket stimulus berikutnya gagal pekan lalu, Trump menandatangani perintah eksekutif selama akhir pekan untuk meningkatkan tunjangan pengangguran dan meringankan beban pajak gaji bagi sebagian orang Amerika. Kemanjuran dan legalitas dari tindakan ini tetap menjadi topik perdebatan hangat di Washington.

Sementara itu, di sisi COVID-19, Rusia menjadi negara pertama yang mendaftarkan vaksin untuk melawan virus Corona. Meskipun proses Rusia telah menimbulkan pertanyaan di komunitas medis, langkah tersebut dapat meningkatkan harapan bahwa vaksin sudah dekat.



Simak Video "IHSG Anjlok Karena PSBB Jakarta, PPP: Masyarakat Dulu Baru Ekonomi"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/zlf)