Investasi Sampoerna Omong Doang?

Catatan Bisnis

Investasi Sampoerna Omong Doang?

- detikFinance
Kamis, 19 Jan 2006 11:40 WIB
Jakarta - Keluarga Sampoerna kembali membuat sensasi dengan membatalkan rencana pembelian Kiani Kertas yang kini terbelit kredit bermasalah dengan Bank Mandiri. Tanpa alasan yang jelas, Sampoerna membatalkan transaksi. Padahal pemerintah jauh-jauh hari sudah menyatakan dukungan atas masuknya Sampoerna sekaligus menutup peluang UFS untuk mengakuisisi Kiani. Pemerintah juga sudah kadung senang dengan kabar Sampoerna yang ingin menguasai Kiani dan mengembangkan bisnis serupa.Menhut MS Ka'ban sebelumnya mengatakan, selain mengakuisisi Kiani, Sampoerna juga akan membangun dua pabrik serupa dengan nilai investasi sekitar US$ 2,6 miliar.Putera Sampoerna pun sudah beberapa kali bertemu Menhut untuk merealisasikannya. Untuk menunjukkan keseriusannya, Putera Sampoerna juga sudah memberi garansi dalam bentuk goodwill sebesar US$ 300 juta. Investasi Keluarga Sampoerna memang selalu menarik perhatian publik. Pada 14 Maret 2005, pelaku pasar dikagetkan oleh berita Keluarga Sampoerna yang melego 40 persen sahamnya di PT HM Sampoerna Tbk senilai Rp 18,6 triliun kepada Philip Morris. Transaksi itu sama sekali tidak terendus oleh pelaku pasar.Setelah publik sempat mereka-reka soal investasi Sampoerna, pada bulan April 2005 Keluarga Sampoerna muncul dengan kabar akan menanamkan investasinya di perkebunan sawit dan pabrik gula. Kala itu, perwakilan Sampoerna juga sempat menemui pejabat pemerintah seperti Menteri Pertanian Anton Apriantono.Waktu itu, Anton mengatakan bahwa keluarga Sampoerna akan membangun 4 pabrik gula dengan luas kebun mencapai 120 ribu hektar di wilayah Merauke. Pabrik itu diharapkan bisa menghasilkan gula hingga 500 ribu hingga 1 juta ton gula per tahun. Khusus untuk pabrik kelapa sawit, Sampoerna berniat membangunnya di wilayah Kalimantan Timur. Sejumlah instansi terkait seperti Departemen Perdagangan, Perindustrian, PU, Depnakertans dan Dephub pun akan dilibatkan. Namun kabar itu selanjutnya hilang ditelan bumi. Kabar yang muncul di bulan Juli justru soal Sampoerna yang menggandeng pengusaha Cina dari Guangzhou plus bos Artha Graha Tommy Winata. Ketiga konglomerasi ini akan menanamkan investasinya senilai US$ 3 miliar di Indonesia dalam jangka waktu 3 tahun. Investasi itu antara lain akan ditanamkan dalam berbagai bidang seperti agribisnis, perikanan, kelautan, kerajinan furnitur, pertambangan umum, migas, keuangan dan infrastruktur. Sebagai langkah awal, ketiga konglomerasi membentuk konsorsium yang selanjutnya mendirikan Indonesia-China Trade Center di Jakarta.Sampoerna juga dikabarkan tertarik membangun tol trans-Jawa. Namun komitmen tersebut semuanya nihil juga. Satu-satunya realisasi investasi Sampoerna adalah dalam pembelian properti Sudirman Square sekitar Rp 250 miliar. Gedung itu kini berganti nama menjadi Sampoerna Strategic Square.Hingga kini, Putera Sampoerna pun tak pernah angkat bicara soal investasinya. Semua berita soal investasinya hanya muncul dari omongan para pejabat pemerintah yang diajak negosiasi ataupun orang kepercayaannya Angky Camaro.Entah benar atau tidak soal komitmen investasi Sampoerna, yang pasti publik sudah kadung senang. Padahal berita investasi Sampoerna itu sudah memunculkan optimisme gairah investasi. Namun sayang, semuanya tak pernah jelas. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads