Kejatuhan Besar Melanda Saham-saham Wall Street
Sabtu, 21 Jan 2006 11:35 WIB
Jakarta - Akhir pekan yang tidak menyenangkan dialami investor saham di Wall Street. Bursa Dow Jones, pada Jumat (20/1/2006), mengalami kejatuhan terbesar hingga 213,32 poin atau 1,96 persen ke level 10.667,39, yang merupakan kemerosotan indeks terbesar dalam satu hari sejak 24 Maret 2003.Penurunan indeks Dow Jones menghambat optimisme pelaku pasar yang sempat bungah, karena indeks Dow Jones pada awal bulan ini sempat kembali ke level 11.000 untuk pertama kalinya sejak serangan 11 September 2001.Seperti dilansir BBC, Sabtu (21/1/2006), terpuruknya indeks Dow Jones karena investor kecewa terhadap hasil laba dari saham unggulan General Electric (GE) dan Citigroup yang jauh di bawah perkiraan pelaku pasar.Sepanjang tahun 2005, laba bersih GE turun 2,8 persen menjadi US$ 16,35 miliar. Penurunan laba bersih GE dipicu oleh merosotnya laba dari unit usaha asuransinya, yang turun 46 persen dibanding tahun lalu menjadi US$ 3,06 miliar.Memburuknya Dow Jones juga ikut menyeret indeks Standard & Poor's 500 terjungkal 23,55 poin (1,83%) ke level 1.261.49.Sedangkan indeks Nasdaq tergelincir 54,11 poin (2,35%) ke level 2.247,70, yang merupakan penurunan terbesar sejak Agustus 2004.Selain sentimen negatif atas kinerja GE dan Citigroup, muramnya saham Wall Street juga karena naiknya kembali harga minyak mentah.Harga minyak di pasar New York jenis light sweet untuk antaran bulan Februari naik US$ 1,52 menjadi US$ 68,35 per barel.Sebelumnya pada 18 Januari, bursa utama dunia lainnya Tokyo Stock Exchange juga sempat anjlok 464 poin, karena terhantam skandal keuangan di perusahaan internet Livedoor.Penguatan pasar saham internasional diprediksi akan kembali tertahan, karena munculnya sentimen negatif dari meroketnya kembali harga minyak mentah.Seruan Al Qaeda yang kembali mengancam AS, masalah nuklir Iran, dan kerusuhan di Nigeria dikhawatirkan akan membuat pasar saham bergejolak kembali.
(ir/)











































