Catatan Bisnis
Investasi Gemilang Ala Temasek
Selasa, 24 Jan 2006 10:03 WIB
Jakarta - BUMN Investasi Singapura, Temasek Holdings kembali meramaikan peta bisnis Asia dengan membeli 49,6 persen saham Shin Corp milik Keluarga PM Thailand Thaksin Shinawatra senilai 73,3 miliar baht.Untuk investasinya, Temasek menggandeng investor lain yakni Siam Commercial Bank dan Kularb Kaew PCL yang merupakan perwakilan investor Thailand. Temasek sendiri merupakan pemegang saham Siam Commercial bank. Temasek cukup bersabar untuk bisa membeli Shin Corp. Kabarnya, transaksi dirampungkan hingga kelarnya UU Telekomunikasi Thailand terbaru yang mengatur soal kepemilikan asing.Dalam UU yang efektif berlaku Minggu, 21 Januari 2006, disebutkan bahwa kepemilikan asing diperusahaan telekomunikasi nasional diperbolehkan mencapai 49 persen dari semula hanya 25 persen. Investasi Temasek di sektor telekomunikasi sebenarnya bukan hal yang baru. Khusus di Indonesia, Temasek menguasai 2 perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia melalui dua cakarnya yakni SingTel dan Singapore Technology Telemedia (STT). Tercatat Singtel menguasai 35 persen saham Telkomsel. Investasi SingTel di Telkomsel bukanlah sia-sia karena mampu membukukan laba bersih hingga Rp 5,47 triliun pada tahun 2004. Telkomsel bahkan mampu 'mempercantik' keuangan induk perusahaannya, PT Telkom Tbk.Sementara 'saudara' SingTel, STT tercatat menguasai 49 persen saham perusahaan telekomunikasi terbesar kedua di Indonesia, PT Indosat Tbk. Investasi ini juga tak sia-sia, karena Indosat berhasil meraup untung hingga Rp 1,02 triliun per September 2005.Keuntungan Indosat bahkan membuat pemerintah Indonesia ngiler dan berniat menguasai kembali saham yang sudah dijualnya kepada STT. Namun STT menolak mentah-mentah keinginan pemerintah Indonesia.Temasek juga dikabarkan akan membeli sebuah perusahaan telekomunikasi di India. Pasar di India sendiri cukup menggiurkan mengingat perekonomiannya tumbuh sangat pesat, setingkat di bawah Cina.Selain sektor telekomunikasi, Temasek pun juga menjadi raja di bidang jasa keuangan. Berita paling mutakhir, Temasek membelanjakan investasinya ke Cina dengan membeli China Minsheng Bank dan China Construction Bank. Di Indonesia, Temasek sukses menguasai BII dan Bank Danamon.Selain telekomunikasi dan jasa keuangan, Temasek juga menanamkan duitnya di sektor properti, transportasi dan logistis, energi, infrastruktur, biofarma dan kesehatan dll. Aset Temasek pun tersebar di seluruh dunia termasuk AS dan Eropa. Didirikan pada tahun 1974, kini Temasek mengelola portofolio senilai US$ 103 miliar atau setara dengan Rp 978,5 triliun per Maret 2005. Sementara Total Shareholder Returns (TSR) rata-rata mencapai 3 persen per tahun dalam 10 tahun terakhir ini. Temasek tampaknya memiliki insting investasi yang sangat hebat. Digabung dengan pengelolaan yang oke plus bebas KKN, Temasek terus tumbuh menjadi salah satu macan investasi dunia.
(qom/)











































