Biden Bakal Bikin Dolar AS Lebih 'Jinak', Siapa yang Untung?

Hendra Kusuma - detikFinance
Rabu, 11 Nov 2020 14:14 WIB
Pemerintah dan Senat AS Sepakati Paket Bantuan Darurat Corona 2 Triliun Dolar
Foto: DW (News)
Jakarta -

Analis menilai dolar Amerika Serikat (AS) bakal terus melemah di tengah risiko geopolitik dan kepastian paket stimulus yang lebih kecil.

Ahli strategi Citi Private Bank memperkirakan dolar lebih melemah ke depan mengingat pemerintahan Biden akan mengurangi ketidakpastian melalui kebijakan perdagangan internasional.

"Kemenangan Presiden Terpilih Joe Biden berarti kembali ke pemerintahan yang lebih konvensional. Itu akan menghasilkan perubahan besar dalam cara kebijakan luar negeri dilakukan. Pembangunan aliansi akan kembali, taktik negosiasi 'ancaman tarif dulu' akan berakhir," kata kepala investasi bank, David Bailin dan Steven Wieting, kepala strategi investasi dan kepala ekonom dalam sebuah catatan yang diterbitkan, seperti yang dikutip dari CNBC, Rabu (11/11/2020).

Mereka menyebut pergerakan nilai tukar dolar itu akan menguntungkan banyak pasar keuangan dunia, terutama di pasar negara berkembang.

"Mungkin kejelasan terbesar pasca pemilihan adalah untuk perdagangan global. Kebijakan luar negeri AS akan memasuki fase yang lebih dapat diprediksi tanpa meningkatkan ancaman tarif, kami melihat penurunan dolar AS dan kenaikan pasar negara berkembang sangat mungkin terjadi," tulis mereka.

Perlu diketahui, nilai tukar dolar AS pagi ini berada di level Rp 14.000-an. Mengutip Reuters, Rabu (11/11/2020), pada pukul 09.25 nilai tukar dolar AS berada di level Rp 14.040.

Dolar AS menguat 20 poin atau 0,12% dari posisi sebelumnya. Pagi ini dolar AS bergerak di rentang Rp 14.060 sampai Rp 14.040.

Sementara dari data RTI, dolar AS pagi ini berada di level Rp 14.035. Angka itu turun 3 poin dari level sebelumnya. Mata uang Paman Sam berada di level tertingginya di Rp 14.038 dan terendahnya di Rp 14.035. Secara harian dolar AS melemah 0,02%.

Sedangkan secara mingguan melemah 3,47%. Mata uang Paman Sam dalam sebulan terakhir juga melemah 4,39%, bahkan dalam tiga bulan terakhir melemah 4,43%.

(hek/dna)