Pengangguran Melonjak, Dow Jones dan S&P Merosot

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 26 Nov 2020 08:55 WIB
Pusat bisnis di New York, Wall Street terlihat kosong melompong sebagai dampak
 pandemi Covid-19, Minggu (29/3/2020).
Wall Street/Foto: Anadolu Agency via Getty Images/Anadolu Agency
Jakarta -

Indeks S&P pada Rabu ditutup lebih rendah akibat naiknya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) di Amerika Serikat (AS). Departemen Tenaga Kerja AS merilis data pengangguran yakni naik 778.000 orang di akhir November ini.

Hal ini karena adanya lockdown yang kembali dilakukan demi menekan lonjakan kasus COVID-19. Indeks Dow Jones Industrial Average tercatat merosot tajam karena adanya aksi jual yang tinggi.

Kepala Strategi Investasi di Inverness Counsel di New York Tim Ghriskey mengungkapkan hal ini akan menyebabkan pasar menanti vaksin sebagai penangkal virus.

"Ada ekspektasi jika vaksin akan didistribusikan dalam waktu dekat. Namun ada kemungkinan virus tidak akan segera hilang, tapi pemulihan ekonomi semakin mendesak," kata dia dikutip dari Reuters, Kamis (26/11/2020).

Dia menyebutkan berbagai data yang dirilis sebelum Thanksgiving pada Kamis ini didominasi oleh angka pengangguran yang naik secara membabi buta.

"Data ekonomi sedang tidak bagus dan kami tahu ini tidak akan baik untuk beberapa waktu ke depan. Apalagi dengan adanya gelombang baru," jelas dia.

Pasar memang sempat membaik karena adanya informasi vaksin yang memunculkan harapan-harapan baru. Namun kembali jatuh setelah adanya lockdown lagi hingga stimulus fiskal yang kurang diberikan oleh pemerintah.

Jajak pendapat Reuters menyebutkan jika analis yakin S&P 500 akan naik 9% pada akhir 2021. Meskipun sempat menurun 12% sepanjang tahun ini akibat penyebaran virus Corona.

Kemudian Dow Jones Industrial Average turun 173,77 poin atau 0,58% menjadi 29.872,47. Lalu S&P 500 turun 5,76 poin atau 0,47% di level 12.094,40.

Sektor perbankan juga tercatat turun 0,7%. Tesla Inc mampu meningkatkan kapitalisasi pasar pada Selasa dengan adanya rencana penarikan kembali sekitar 9.500 unit kendaraan. Selain itu perusahaan juga berencana untuk mulai memproduksi pengisi daya kendaraan listrik di China tahun depan.

(kil/ara)