Volatilitas Saham Tinggi, Transaksi Harian Januari Rp 1,3 T
Rabu, 01 Feb 2006 11:40 WIB
Jakarta - Sepanjang Januari 2006, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat volatilitas yang tinggi, dengan kenaikan dan penurunan yang terjadi sangat ekstrem.Pergerakan IHSG yang sangat ekstrem tersebut terlihat dari indeks yang pernah membumbung hingga 36,863 poin pada 19 Januari 2006. Namun indeks juga pernah nyungsep 22,761 poin pada 23 Januari. Sedangkan rekor tertinggi indeks sepanjang sejarah bursa terjadi pada 11 Januari 2006 di level 1.261,283.Menurut Edwin Sebayang, analis saham dari Evergreen Capital, ada sejumlah faktor yang membuat volatilitas indeks sangat tinggi di awal tahun ini, seperti indeks regional dan harga minyak yang juga fluktuatif.Adanya january effect dan perpindahan dana dari reksa dana pendapatan tetap ke pasar saham juga membuat trasanksi saham Januari semarak. "Kenaikan yang begitu tajam juga membuat pelaku pasar melakukan profit taking yang menyeret indeks," jelas Edwin.Edwin memperkirakan, pergerakan volatilitas IHSG yang tinggi masih akan berlanjut pada Februari ini. Pasalnya, pergerakan indeks bulan ini mulai akan dipengaruhi keluarnya laporan keuangan emiten. Investor juga akan melihat ekspektasi inflasi dan respons Bank Indonesia (BI) terhadap langkah The Fed. "Jadi masih cenderung fluktuatif," kata Edwin. Namun Edwin menilai, kecenderungan inflasi masih bisa diredam walaupun The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 4,5 persen. Hal ini karena masih ada kemungkinan masuknya hot money ke dalam negeri, yang akan berdampak pada penguatan nilai tukar rupiah sehingga bisa mengerem laju inflasi. "Pasar berharap inflasi di bawah 1 persen," tukas Edwin. Rata-rata nilai transaksi harian di Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada Januari mencapai Rp 1,389 triliun. Sementara total nilai saham sepanjang Januari mencapai Rp 27,792 triliun dengan volume transaksi 25,881 miliar unit saham. "Dibandingkan rata-rata nilai transaksi tahun lalu sebesar Rp 1,7 triliun, bulan ini memang lebih rendah. Tapi tahun lalu karena ada beberapa crossing besar seperti saham Sampoerna," kata Direktur Perdagangan BEJ MS Sembiring.
(ir/)











































