BI: Investasi 2006 Akan Turun
Senin, 06 Feb 2006 12:47 WIB
Jakarta - Ingin berinvestasi pada tahun 2006? Pikir ulang rencana tersebut. Bank Indonesia (BI) memrediksi angka investasi di tahun anjing api ini akan turun seiring tantangan yang kian berat.Dalam laporan triwulan IV-2005 BI yang diterima detikcom, Senin (6/2/2006), kegiatan investasi pada tahun 2006 diperkirakan tumbuh sekitar 8,4-9,4 persen, yang berarti turun dibandingkan tahun 2005.Ketidakpastian dalam prospek usaha menyebabkan pengusaha lebih bersikap wait and see. Penurunan kegiatan investasi ini terutama berkaitan dengan lesunya prospek usaha akibat melemahnya daya beli masyarakat.Selain itu, pengusaha juga mulai dihadapkan dengan peningkatan cost of capital sebagai dampak dari kenaikan suku bunga BI rate yang mulai tertransmisikan ke suku bunga kredit, meski dampak tersebut masih terbatas.BI memperkirakan, kinerja kegiatan investasi yang melambat ini sejalan dengan leading indikator investasi yang mengindikasikan adanya perlambatan siklus pertumbuhan investsai sejak triwulan I-2005.Namun demikian, BI berharap kegiatan investasi swasta dapat diimbangi oleh kegiatan investasi pemerintah. BI meyakini dorongan dari stimulus fiskal memiliki efek pengganda yang cukup besar terhadap perekonomian secara keseluruhan dan menjadi tulang punggung kegiatan investadi di tahun 2006.Program atau kegiatan investasi pemerintah sendiri rencananya diluncurkan pada April-Mei 2006 dan diharapkan mampu mendongkrak angka investasi di tahun 2006.Selain stimulus fiskal, komitmen pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi merupakan faktor yang penting untuk menjaga kesinambungan kegiatan investasi.Sementara dari sisi pembiayaan, tantangan bagi pembiayaan investasi pada tahun 2006 diperkirakan cukup berat. Mengingat kredit perbankan masih menghadapi tantangan berat, sumber pembiayaan diharapkan mengucur dari luar negeri terutama setelah memasuki paruh kedua tahun 2006.Untuk konsumsi swasta diperkirakan tumbuh pada kisaran 3-4 persen, yang berarti lebih rendah dibandingkan tahun 2005. Rendahnya konsumsi ini terutama terkait dengan lembahnya daya beli akibat melonjaknya laju inflasi setelah kenaikan harga BBM.Kegiatan konsumsi swasta ini juga menghadapi kendala dari sisi pembiayaan akibat dari mulai tertransmisikannya kenaikan BI rate ke sektor riil melalui kenaikan suku bunga kredit.
(qom/)











































