Keuangan Bakrie Telecom Berdarah-darah, Ini 3 Faktanya

Danang Sugianto - detikFinance
Jumat, 22 Jan 2021 19:00 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat naik hingga hampir 20 poin tapi kemudian melambat lagi. Investor belum bersemangat sehingga perdagangan berjalan lesu. Pada penutupan perdagangan Sesi I, Jumat (14/11/2014), IHSG turun tipis 4,732 poin (0,09%) ke level 5.043,936. Sementara Indeks LQ45 melemah tipis 0,233 poin (0,03%) ke level 864,319.
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, itu sepertinya cocok untuk menggambarkan kondisi PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) saat ini. Kondisi keuangan perusahaan operator Esia itu tengah berdarah-dah, belum lagi Bursa Efek Indonesia (BEI) mengancam akan mendepak saham BTEL dari pasar modal.

Berikut 3 fakta tentang kondisi terkini Bakrie Telecom yang tengah berdarah-darah:

1. Utang 2.133 Kali dari Aset

Total utang BTEL dalam laporan keuangan 2020 turun dari posisi 2019 sebesar Rp 13,35 triliun menjadi Rp 9,6 triliun. Namun jumlah aset BTEL turun drastis dari Rp 11,23 miliar menjadi Rp 4,5 miliar. Jika dihitung utang BTEL mencapai 2.133 kali lipat dari asetnya.

Perusahaan juga mengalami kerugian sebesar Rp 60,17 miliar. Catatan itu berbanding terbalik dengan capaian di 2019 yang berhasil menorehkan laba bersih Rp 7,17 miliar.

Pendapatan usaha bruto BTEL turun dari Rp 10 miliar menjadi Rp 8,1 miliar. Beban pokok turun dari Rp 6,25 miliar menjadi Rp 5 miliar. Sehingga pendapatan usaha neto turun dari Rp 4 miliar menjadi Rp 3 miliar di 2020.

BTEL berhasil mengurangi total beban usaha dari Rp 27,3 miliar menjadi Rp 10,7 miliar. Namun beban keuangan perusahaan membengkak drastis dari hanya Rp 15 juta menjadi Rp 71,56 miliar.

2. Bakrie Telecom Berpotensi Didepak dari Pasar Modal

Saham BTEL berpotensi dikeluarkan dari papan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebab saham BTEL sudah disuspensi hampir 2 tahun berturut-turut.

Melansir keterbukaan informasi, Selasa (19/1/2021), BEI mengumumkan bahwa saham BTEL sudah dibekukan selama 20 bulan dari 27 Mei 2019.

Pembekuan saham BTEL akan mencapai 24 bulan atau 2 tahun penuh pada 27 Mei 2020. Potensi delisting itu tertuang dalam Peraturan Bursa Nomor I-I tentang Penghapusan Pencatatan (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting) Saham.

Pada Ketentuan III.3.1.2 berbunyi BEI dapat menghapus saham perusahaan tercatat apabila saham perusahaan tercatat yang akibat suspensi di pasar reguler dan pasar tunai, hanya diperdagangkan di pasar negosiasi sekurang-kurangnya selama 24 bulan terakhir.

3. Dipantau Ketat BEI

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan perseroan sendiri telah mempublikasikan rencana upaya perbaikan pada tanggal 14 Agustus 2020. Pada intinya Bakrie Telecom melalui entitas anaknya akan masuk ke beberapa bisnis baru yang telah direncanakan sampai dengan tahun akhir tahun 2021 ini.

"Selanjutnya pada tanggal 17 Januari 2021, Perseroan juga telah mempublikasikan Laporan Keuangan periode 30 September 2020 (audited) yang mendapatkan opini Wajar Dengan Pengecualian," tuturnya kepada awak media, Rabu (20/1/2021).

Nyoman menambahkan, saat ini BEI tengah melakukan evaluasi lebih lanjut terkait kesesuaian laporan keuangan perseroan dengan standar pelaporan yang berlaku. Selain itu BEI juga memantau upaya konkrit Bakrie Telecom untuk mempertahankan keberlangsungan usaha (going concern).

"Bursa juga masih menunggu penyelesaian beberapa kewajiban Perseroan kepada Bursa, sehingga Bursa belum dapat melakukan pembukaan penghentian sementara perdagangan (unsuspensi) efek (Bakrie Telecom) Perseroan," tegasnya.

(das/fdl)