Terinspirasi Gamestop, Investor China Ingin Ikut Tumbangkan Bandar

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 01 Feb 2021 12:26 WIB
Heboh Saham GameStop: Perang Tanding David Lawan Goliath di Lantai Bursa Wall Street
Foto: DW (News)
Jakarta -

Kegilaan yang terjadi pada saham GameStop telah menginspirasi para investor amatir di mana pun untuk mengguncang pasar saham. Tak mau ketinggalan kini pasukan besar investor ritel dari China mulai terinspirasi dan akan berencana melakukan aksi semacam itu.

Pembicaraan tentang meroketnya nilai saham GameStop setelah pembelian massal oleh sekelompok investor ritel dari Reddit telah mengambil alih media sosial China. Keuntungan yang mencolok dalam kejadian itu telah membuat iri para investor muda di negara itu.

Dilansir dari CNN, Senin (1/2/2021), kini mereka saling berseru untuk bersatu dan meniru rekan-rekan investor ritel Amerika dalam menaikkan harga saham perusahaan yang sedang berjuang.

"Pembuat pasar gemetar di depan investor ritel yang berkumpul bersama. Ini akan segera menjadi giliran China," tulis salah satu pengguna di situs media sosial Weibo.

Sama seperti Milenial dan Gen Z di Amerika Serikat yang mengeluhkan hedge fund dan short-seller yang merupakan bagian dari elit Wall Street, banyak investor kecil di China berseru buruk atas apa yang mereka lihat sebagai eksploitasi pasar oleh institusi besar.

Pasar keuangan China sangat berbeda dengan New York. Short-selling sangat diatur dan sangat jarang, sehingga sulit bagi investor China untuk meniru hiruk pikuk di AS. Hiruk pikuk yang telah memompa saham GameStop sebagai cara untuk meruntuhkan dominasi 'bandar besar' di pasar modal.

Meski begitu, investor harian di China memiliki banyak pengaruh atas aktivitas pasar. Ada lebih dari 177 juta investor ritel, atau pedagang individu di China. Jumlahnya sekitar 99% dari basis investor.

Investor di sana juga sering mengeluh bahwa mereka dipanen seperti daun bawang, oleh para pemain besar yang menipu mereka untuk mendapatkan uang yang mereka pikir pantas mereka dapatkan.

Secara teori, investor China dapat mencoba untuk secara kolektif menaikkan harga saham individu dan kemudian menjualnya sebelum investor institusional melakukannya. Tapi itu sulit, mengingat sumber daya dan pengetahuan yang dimiliki para pemetik saham kelas kakap ini lebih baik.

Ditambah lagi, perusahaan institusional yang fokus pada perdagangan panjang pada akhirnya bisa mendapatkan keuntungan dari lonjakan saham.

Namun menurut Kenny Tang, CEO Royston Securities, sebuah perusahaan pialang yang berbasis di Hong Kong, apa yang terjadi pada GameStop bisa saja ditiru. Apalagi mengingat keakraban masyarakat menggunakan ruang obrolan di media sosial untuk memasang taruhan pada sebuah saham.

"Bisa dibayangkan, tidak sulit bagi sebagian dari mereka untuk mengeroyok dan memengaruhi saham individu, terutama yang berkapitalisasi kecil," kata Tang.

China tidak asing dengan volatilitas pasar yang didorong oleh perdagangan yang hiruk pikuk. Ketika Pasar Bintang bergaya Nasdaq diluncurkan di Shanghai pada 2019, investor lokal membantu beberapa saham meroket nilainya. Bahkan pernah ada saham di satu perusahaan yang meroket 400% pada hari pertama perdagangan.

Pemerintah China dan media pemerintah juga sangat menyadari bagaimana investor individu tersebut dapat mendorong saham. Media pemerintah, misalnya, meminta investor lokal untuk menggelontorkan uang ke pasar musim panas lalu saat ekonomi pulih dari pandemi virus Corona.

Ketika reli tampak bergerak terlalu cepat, beberapa outlet berita memutar balik sedikit dan mendorong perdagangan yang lebih konservatif.

Namun, para analis memperingatkan bahwa perdagangan terkoordinasi di negara seperti China, di mana semuanya sangat diatur, penuh dengan bahaya. Orang-orang yang mencoba mengatur perubahan pasar yang besar berisiko ditangkap, jika pemerintah mencurigai mereka melakukan manipulasi pasar saham.

"Jika Anda menarik perhatian regulator, itu mungkin tidak akan berakhir dengan baik untuk Anda," kata Tang.

(hal/eds)