Biaya Energi Naik, Laba Bersih Inco Turun 5,5%
Rabu, 15 Feb 2006 17:14 WIB
Jakarta - Perusahaan tambang, PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO), mencatat penurunan laba bersih, yang belum diaudit, tahun 2005 sebesar 5,5 persen menjadi US$ 268,9 juta dibanding tahun 2004 yang sebesar US$ 284,4 juta. Laba bersih per saham juga mengalami penurunan dari US$ 0,29 pada tahun 2004 menjadi US$ 0,27 tahun 2005. "Walaupun kinerja perseroan tetap bagus di tahun 2005, namun laba bersih dipengaruhi negatif oleh biaya yang lebih tinggi khususnya untuk energi," kata Presiden Direktur Inco, Bing Tobing dalam penjelasannya kepada Bursa Efek Jakarta, Rabu (15/2/2006).Menurut Tobing, tahun lalu perseroan lebih banyak menggunakan high sulphur fuel oil (HSFo) untuk memacu produksi. Perseroan juga memasang dua generator pembangkit listrik baru dengan bahan bakar minyak untuk mendorong produksi akibat tingginya harga nikel."Karena dengan menguatnya harga nikel, perseroan dapat menghasilkan keuntungan untuk setiap kenaikan produksi," ujar Tobing.Tahun 2005, Inco juga mencatat rekor produksi sebesar 168 juta pon nikel dalam matte. Sementara harga nikel juga meningkat dari US$ 4,88 per pon pada 2004 menjadi US$ 5,2 per pon tahun 2005. Dengan demikian perseroan mencatat penjualan tahun lalu sebesar US$ 885,1 juta. Sementara itu total aset Inco tahun 2005 meningkat menjadi US$ 1,642 miliar dari tahun 2004 sebesar US$ 1,619 miliar. Aktiva tersebut terdiri dari kewajiban sebesar US$ 353,109 juta dan ekuitas US$ 1,289 miliar."Perseroan telah membayar utang jangka panjang sebesar US$ 77 juta selama tahun 2005. Sementara utang yang jatuh tempo tahun 2005 hanya sebesar US$ 38,5 juta," tambah Tobing.Tahun ini target produksi perseroan sebesar 167 juta pon nikel dalam matte. Target tersebut rencananya akan meningkat lagi menjadi 200 juta pon nikel dalam matte tahun 2009 seiring selesainya pembangunan Bendungan Karebbe tahun 2008.
(ir/)











































