Energi Tunjuk E&Y Untuk Kaji Merger dengan BUMI

Energi Tunjuk E&Y Untuk Kaji Merger dengan BUMI

- detikFinance
Kamis, 16 Feb 2006 10:57 WIB
Jakarta - PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) telah menunjuk Ernst & Young Advisory Services (E&Y) sebagai penilai independen untuk mengkaji rencana merger perusahaan dengan PT Bumi Resources Tbk (BUMI)."E&Y telah melakukan pengkajian sejak 7 Februari dan saat ini proses tersebut masih terus berlanjut," kata Yuli Soedargo, Direktur ENRG, dalam penjelasannya kepada Bursa Efek Jakarta (BEJ), Kamis (16/2/2006).Menurut Yuli, pelaksanaan merger hanya akan dilakukan setelah mempertimbangkan hasil kajian yang dibuat oleh perusahaan dan penilai independen termasuk dampaknya terhadap perseroan dan seluruh pemegang saham.Sementara investor publik menuntut transparansi rencana merger BUMI dan ENRG dan meminta BEJ jangan birokratis menyikapi rencana merger ini."Kami meminta BEJ sebaiknya jangan birokratis, sedangkan kelompok Bakrie sebagai pemegang saham kedua belah pihak jangan main 'petak umpet'," kata Sekjen Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia (Missi) Djoko Santoso Soenoe, Kamis (16/2/2006).Missi meminta, otoritas bursa perlu lebih fleksibel menghadapi restrukturisasi emiten atau kelompok Bakrie pada khususnya, karena melihat track record grup Bakrie selama ini.Menurut Djoko, diperlukan upaya khusus bagi kelompok ini untuk keluar dari kemelut ketidakpercayaan publik. Tanpa upaya terobosan yang bersifat revolusioner dan disertai dengan fleksibilitas dari otoritas bursa maka sulit bagi kelompok ini untuk secepat mungkin keluar dari kemelut dan memperbaiki citranya di pasar modal.Sepanjang restrukturisasi berguna bagi ekonomi dan bagi investor publik, Djoko menilai, merger tersebut perlu dipertimbangkan. Sayangnya, kelompok Bakrie belum dipandang serius memperbaiki citranya di pasar modal sehingga langkah-langkahnya sering dipandang penuh curiga. Missi melihat, meskipun ada restrukturisasi yang berhasil seperti BUMI, ada juga yang gagal seperti Bakrie & Brothers (BNBR). "Untuk menghindari benturan kepentingan diantara pemegang saham mayoritas, maka sebaiknya biarkan investor publik yang memutuskan apakah merger tersebut perlu dilanjutkan atau tidak," kata Djoko.Namun, investor mengharapkan baik ENRG maupun BUMI lebih transparan terhadap rencana-rencananya jauh kedepan, sehingga tidak terbangun kesan bahwa model investasi di kelompok Bakrie masih kucing-kucingan ketimbang fundamental. (ir/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads