Obligasi AS Jadi Momok Baru Investor Saham di Wall Street

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 02 Mar 2021 10:02 WIB
Gedung saham New York atau yang dikenal sebagai Bursa Saham Wall Street
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Investor mulai memusatkan fokusnya pada pasar obligasi. Kini mereka mulai memantau pergerakan ekonomi yang akan memanas terlalu dini dan juga inflasi yang mungkin akan menghasilkan keuntungan yang tidak diinginkan.

Dilansir dari CNN, Selasa (2/3/2021), pasar obligasi pun memang sedang berada dalam volatilitas yang tinggi beberapa hari ini. Imbal hasil Treasury AS 10 tahunan sekarang berada di sekitar 1,44%, setelah sempat melonjak menjadi 1,61% pada hari Kamis.

Meski begitu, imbal hasil untuk Treasury 10 tahunan ini secara historis masih rendah. Kini justru investor khawatir tentang besarnya lonjakan.

Imbal hasil obligasi berada di sekitar 1% setahun yang lalu, dan mereka jatuh jauh ke level 0,3% pada bulan Maret. Hal itu terjadi tak lama setelah Bank Sentral Federal Reserve memangkas suku bunga dalam pertemuan darurat di awal krisis COVID-19.

Hal ini mengingatkan investor tentang apa yang kemudian dikenal sebagai taper tantrum 2013, ketika imbal hasil obligasi melonjak setelah Federal Reserve mengumumkan rencana untuk menarik kembali, atau mengurangi pembelian obligasi.

Pengulangan skenario itu dapat menyebabkan kemunduran lebih lanjut di pasar saham. Terutama pada saham Big Tech yang memimpin Nasdaq, karena mereka diuntungkan paling banyak dari suku bunga rendah.

"Pergerakan suku bunga begitu cepat, dan itulah yang mengejutkan pasar," kata David Norris, kepala Kredit AS di TwentyFour Asset Management.

Tetapi apakah para pedagang bereaksi berlebihan terhadap kekhawatiran tentang inflasi? Ketua The Fed Jerome Powell dan anggota Fed lainnya masih tidak terlalu khawatir, terutama karena pertumbuhan upah tetap lamban dan pasar tenaga kerja masih jauh dari pulih sepenuhnya.

"Powell tampaknya menasihati investor untuk tidak khawatir. Dia lebih prihatin tentang tingkat pengangguran dan penghancuran pekerjaan akibat pandemi," ujar Norris.

Inflasi biasanya menjadi momok yang lebih besar ketika orang memiliki lebih banyak uang dalam gaji mereka dan bersedia membayar harga barang dan jasa yang lebih tinggi. Kenaikan harga komoditas baru-baru ini, seperti minyak, mungkin tidak cukup menimbulkan ketakutan inflasi kecuali perusahaan merasa nyaman untuk meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen dalam bentuk harga yang lebih tinggi.

The Fed juga tidak memberikan indikasi bahwa mereka siap melepaskan diri dari pedal gas dan mengurangi stimulus, namun The Fed kemungkinan akan mentolerir lebih banyak inflasi selama itu disertai dengan pemulihan ekonomi.

"Inflasi adalah tanda ekonomi rebound. Itu tidak selalu berarti buruk," kata Brian Walsh Jr., penasihat keuangan di Walsh & Nicholson Financial Group.

"Investor hanya ingin mendengar dari Powell bahwa semuanya akan baik-baik saja dan bahwa Fed akan mendukung pertumbuhan dengan lebih banyak stimulus dan likuiditas," katanya.

(hal/eds)