Laba Indocement 2005 Makin Kinclong

Laba Indocement 2005 Makin Kinclong

- detikFinance
Rabu, 01 Mar 2006 11:38 WIB
Jakarta - Perusahaan semen kedua terbesar di Indonesia, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat kinerja usaha yang makin kiclong di tahun 2005.Perusahaan membukukan laba bersih 2005 sebesar Rp 740 miliar yang naik signifikan 537,9 persen, dibanding hasil tahun sebelumnya yaitu Rp 116 miliar.Sementara pendapatan bersih 2005 mencapai Rp 5,592 triliun naik 21,14 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp 4,616 triliun. Kenaikan harga penjualan ekspor, serta kenaikan harga dan volume penjualan domestik memberikan kontribusi terhadap meningkatnya pendapatan tersebut.. "Komitmen terhadap efisiensi biaya yang dilakukan secara terus menerus telah menurunkan biaya overhead dan meningkatkan marjin laba kotor dari 33 persen menjadi 36 persen atas pendapatan bersih," kata Daniel Lavalle, Direktur Utama Indocement dalam penjelasan tertulis, Rabu (1/3/2006).Laba usaha yang diperoleh tahun 2005 mencapai Rp 1,214 triliun, marjin laba usaha juga meningkat menjadi 22 persen dari 18 persen. Ditahun 2005, Perseroan juga mencatat laba kurs sebesar Rp 50 miliar dibandingkan dengan rugi kurs di tahun 2004 sebesar Rp 498 miliar. Selama tahun 2005, Perseroan telah melakukan pembayaran utang sebesar US$ 78 juta. Setelah memperhitungkan laba kurs, utang jangka panjang perseroan kepada bank dan lembaga keuangan lain sebesar Rp 3,870 triliun, sehingga net gearing turun dari 87 persen menjadi 54 persen.Daniel juga mengatakan, bahwa kenaikan harga BBM di tahun 2005 telah menyebabkan kenaikan biaya produksi yang signifikan sehingga perseroan harus menaikkan harga semen. Sementara tingginya tingkat inflasi dan suku bunga telah mengakibatkan turunnya daya beli masyarakat. Terihat dari menurunnya volume penjualan pada semester kedua tahun 2005 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pada tahun 2005, pertumbuhan konsumsi semen domestik hanya 4 persen, jauh di bawah perkiraan yaitu sebesar 8-10 persen."Walaupun kinerja perseroan mencapai hasil yang baik pada tahun 2005, namun efek dari inflasi masih belum diserap sepenuhnya pada akhir tahun 2005. Kenaikan biaya tambahan diperkirakan masih akan terjadi pada tahun 2006," tutur Daniel. Daniel memperkirakan, tingkat inflasi dan suku bunga akan menurun pada semester kedua tahun 2006. "Pada saat itu kami harapkan perbaikan keadaan makro ekonomi akan meningkatkan permintaan konsumsi semen domestik," ujarnya.Pinjaman BaruDaniel menjelaskan, turunnya tingkat utang dibawah US$ 400 juta dan dengan net gearing 54 persen, perseroan beruapaya mendapatkan pinjaman lagi dengan biaya yang lebih murah.Perseroan akan menandatangani fasilitas pinjaman sindikasi dan bilateral dengan nilai total tidak lebih dari US$ 190 juta. Jaminan yang ditawarkan berupa corporate guarantee dari HeidelbergCement AG selaku pemegang saham mayoritas. Melalui skema pembiayaan dengan jaminan dari HeidelbergCement AG tersebut, menurut Daniel, perseroan dapat melakukan penghematan biaya marjin bunga dari 2 persen menjadi 1,1-1,2 persen. Untuk persetujuan pinjaman baru ini, perseroan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RIPSLB) pada 29 Maret 2006.Rencananya dana hasil pinjaman itu akan digunakan untuk melunasi seluruh kewajiban dalam Master Facilities Agreement (MFA). (ir/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads