Punya Rp 10 Juta Buat Beli Reksa Dana, Berapa Untungnya?

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 21 Mar 2021 19:46 WIB
Mengakhiri perdagangan akhir pekan, Jumat (19/2/2016), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup jatuh 81,234 poin (1,70%) ke level 4.697,560.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Reksa dana bisa menjadi salah satu pilihan instrumen investasi bagi masyarakat yang baru memulai menanamkan uangnya. Instrumen investasi ini memiliki tingkat keuntungan yang cukup lumayan.

Ada berbagai jenis reksa dana mulai dari reksa dana pasar uang, ada pula reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran, reksa dana saham, reksa dana terproteksi, reksa dana indeks, reksa dana dengan penjaminan, hingga Exchanged Traded Fund (ETF).

Jenis-jenis reksa dana itu tergantung dari pengelolaan dananya. Misalnya reksa dana saham, uang nasabah akan dikelola di pasar saham. Nah masing-masing MI memiliki racikan masing-masing. Oleh karena itu kinerjanya berbeda-beda.

Ada yang memberikan keuntungan hingga 40% lebih tapi ada juga yang justru returnya negatif alias nilai reksa dana kami turun.

Jenis-jenis reksa dana itu tergantung dari pengelolaan dananya. Misalnya reksa dana saham, uang nasabah akan dikelola di pasar saham. Nah masing-masing MI memiliki racikan masing-masing. Oleh karena itu kinerjanya berbeda-beda.

Di reksa dana ada yang namanya Nilai Aktiva Bersih (NAB) atau Net Asset Value (NAV) dalam bahasa Inggris. Itu merupakan nilai bersih dari total kekayaan sebuah produk reksa dana, tentunya setelah dikurangi biaya-biaya operasi seperti biaya kustodian dan biaya MI.

NAB inilah yang menjadi rujukan nilai sebuah produk reksa dana. Oleh karena itu setiap harinya nilai NAB fluktuatif atau bergerak mengikuti kinerja investasi dari ramuan MI-nya.

Tapi NAB bukanlah harga reksa dana. Untuk harga reksa dana sendiri berasal dari NAB dibagi unit penyertaan (UP).

Misalnya di awal 2020 detikers membeli reksa dana dengan uang Rp 10 juta tadi. Saat itu reksa dana tersebut memiliki NAB/UP sebesar Rp 2.000. Maka UP yang didapat saat itu Rp 10.000.000 : Rp 2.000 = 5.000 UP.

Jika dalam satu tahun naik 46% maka nilai NAB/UP di akhir 2020 sebesar Rp 2.920. Lalu jika di level itu reksa dana itu dicairkan nilai portofolionya menjadi 5.000 UP x Rp 2.920 = Rp 14.600.000.

Jika dikurangi modal, maka keuntungan bersih yang di dapat selama 1 tahun dari investasi di reksa dana bisa mencapai Rp 4,6 juta. Itu jika Rp 10 juta modalnya, bisa hitung sendiri jika modalnya Rp 100 juta maka untung bersihnya Rp 46 juta satu tahun.

Namun yang perlu diketahui juga ada risiko yang mengintai reksa dana yakni penurunan NAB. Hal itu bisa terjadi jika kandungan dari produk reksa dana itu mengalami penurunan nilai seperti saham maupun surat utang.

Di saham tentu paling besar rujukannya dengan melihat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jika produk reksa dananya adalah saham. Tapi penurunan IHSG juga belum menjamin nilai reksa dananya ikut turun, karena itu semua tergantung kelihaian MI dalam mengelola dana nasabahnya.

Risiko lainnya yaitu risiko likuiditas, bisa terjadi apabila ketika investor ingin mencairkan uangnya di reksa dana, reksa dana tidak memiliki cukup uang karena terjadinya pencairan besar-besaran.



Simak Video "Modal Ceban Sudah Bisa Jadi Investor Reksadana Loh"
[Gambas:Video 20detik]
(das/dna)