Kinerja Emiten Telekomunikasi & Perkebunan 2006 Moncer
Rabu, 01 Mar 2006 15:48 WIB
Jakarta - Kinerja pertumbuhan emiten sektor perkebunan dan telekomunikasi tahun 2006 diperkirakan tetap moncer alias cemerlang. Sedangkan kinerja emiten perbankan dan perusahaan pembiayaan cenderung moderat.Demikian hasil analisa Perusahaan Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) yang disampaikan oleh analisnya Hendro Utomo dan Yanto E Umar, dalam diskusi tentang perusahaan jangkar 2006, di Setiabudi Atrium, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Rabu (1/3/2006).Sektor telekomunikasi tetap akan mentereng karena pertumbuhannya akan tetap tinggi di tahun ini. Kondisi sektor telekomunikasi yang baik di tahun 2006 bisa dijadikan momentum, bagi perusahaan yang bergerak di sektor ini dalam mencari pendanaan lewat obligasi untuk ekspansi usaha."Khususnya untuk perusahaan-perusahaan yang masuk teknologi 3G, harusnya dengan kondisi ekonomi yang baik bisa dimanfaatkan untuk mengeluarkan bond," kata Hendro.Pertumbuhan sektor telekomunikasi terlihat dari peningkatan jumlah pelanggan seluler yang signifikan. Jumlah pelanggan seluler sampai kuartal-III 2005 mencapai 42 juta dibanding akhir tahun 2004 yang sebesar 29,837 juta.Sementara untuk rating perusahaan telekomunikasi, menurut Hendro, saat ini sudah cukup mentok, dalam artian sulit dinaikkan lagi, terutama pada beberapa pemain besarnya. Misalnya rating perusahaan Telkom di posisi AAA (triple A) dan Indosat AA+ (doble A plus).Untuk sektor perkebunan khususnya crude palm oil (CPO), diperkirakan juga cerah karena peningkatan demand terhadap CPO yang tumbuh 2-3 juta ton per tahun.Apalagi permintaan dari Amerika akan meningkat karena pelarangan penggunaan minyak soya (minyak kedelai). Demikian juga Malaysia yang mengatakan akan mengurangi produksi CPO.Kinerja sektor perbankan dan perusahaan pembiayaan diperkirakan akan stabil atau moderat. Hal ini terkait dengan tingkat suku bunga yang diperkirakan masih akan stagnan sampai semester II-2006.Namun meski suku bunga dan rasio kredit macet atau non performing loan (NPL) tinggi, tidak akan begitu menurunkan outlook (prospek) perbankan di 2006. Pasalnya, tingginya NPL saat ini lebih karena terkait dengan regulasi yang dikeluarkan Bank Indonesia.Sedangkan sektor perusahaan pembiayaan belum akan meroket, direfleksikan dengan penurunan jumlah penjualan kendaraan bermotor, baik roda empat maupun roda dua dari perusahaan pembiayaan.Tahun 2004 penjualan mobil sebesar 483.270 unit dan 2005 mencapai 533 unit. Namun tahun 2006 diperkirakan hanya 500 ribu unit, dan penurunan penjualan yang signifikan telah terlihat pada awal tahun ini."Untuk kendaraan bermotor diperkirakan akan turun penjualannya sekitar 20-30 persen menurut para perusahaan pembiayaan," kata Yanto E Umar.
(ir/)











































