Bos Waskita Ungkap Penyebab Kondisi Keuangan 'Berdarah-darah'

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Kamis, 08 Apr 2021 18:06 WIB
Logo Waskita Karya
Foto: Dok. Waskita.co.id
Jakarta -

PT Waskita Karya (Persero) Tbk membukukan kinerja yang buruk pada tahun 2020. BUMN karya ini membukukan rugi sebesar Rp 7,28 triliun, sementara pada tahun sebelumnya mencetak laba Rp 872 miliar.

Sementara, total liabilitas Rp 89,01 triliun, turun dibanding periode sebelumnya Rp 93,47 triliun.

Direktur Utama Waskita Karya Destiawan Soewardjono pun buka suara atas kinerja tahun 2020. Dia bilang, pada tahun lalu Waskita berencana melakukan divestasi atau menjual 5 ruas tol. Namun, rencana tertunda karena dampak pandemi.

"Akibat pandemi ini tahun 2020 harusnya ada 5 ruas yang kami divestasi tapi kami gagal karena para investor menunda," katanya dalam webinar, Kamis (8/4/2021).

Dia mengatakan, pada tahun ini pihaknya akan mendivestasi 9 ruas tol. Dia bilang, jika divestasi itu berjalan lancar maka bisa mengurangi beban utang.

Apalagi, Waskita juga dihadapkan pada beban bunga utang yang mencapai Rp 4,7 triliun.

"Kalau ini terjadi maka ini akan mengurangi beban utang Waskita yang tahun lalu dengan utang hampir Rp 90 triliun itu kami harus menanggung beban bunga Rp 4,7 triliun, jadi ini sangat-sangat berat. Sebelum COVID rate rendah, setelah COVID justru interest rate naik ini menjadi beban," katanya.

Dia mengatakan, jika divestasi terlaksana maka akan mengurangi beban utang. Dengan begitu, ia optimistis tahun ini Waskita berjalan normal.

Sementara, Direktur Keuangan Waskita Karya Taufik Hendra Kusuma menuturkan, jika divestasi berhasil maka beban utang yang bisa terpangkas mencapai Rp 20 triliun.

Selain divestasi, perusahaan juga memperbaiki kinerja dengan restrukturisasi utang.

"Divestasi Pak Dirut sudah ceritakan, tahun ini saja kalau misalnya kita bisa sesuai target 9 ruas praktis kita bisa merilis dari sisi utang sampai ke sekitar Rp 20 triliun itu akan lepas baik efeknya dari pembayaran maupun dari rekonsolidasi, belum termasuk profitnya," terangnya.

"Saat ini proses 9, yang sudah di ujung sudah ada 4, dan yang pipe line 5 lagi. Kemudian restrukturisasi ini pastinya akan dengan perbankan sekarang dalam proses pastinya akan membuat beban bunga akan menurun, mudah-mudahan bisa realisasi kami mendapat fully support dari Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan juga dalam proses support juga," katanya.

Lihat juga video 'Kasus Infrastruktur Fiktif, Desi Arryani Diduga Korupsi Rp 3,4 M':

[Gambas:Video 20detik]



(acd/das)