Ogah Rugi, Bos Emergent Jual Saham Usai Pabriknya Rusak 15 Juta Vaksin

Vadhia Lidyana - detikFinance
Selasa, 27 Apr 2021 10:43 WIB
Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson dapat izin di AS, cuma sekali suntik dan hemat biaya
Foto: BBC World
Jakarta -

Pabrik Emergent BioSolutions yang memproduksi vaksin COVID-19 Johnson & Johnson dilaporkan merusak 15 juta dosis. Pada 16 April 2021 lalu, Food & Drug Administration (FDA) alias BPOM Amerika Serikat (AS) memerintahkan Emergent menghentikan produksi vaksin dan mengkarantina bahan-bahan yang digunakan selama produksi.

Ternyata, sebelum kasus itu diketahui publik, CEO Emergent Robert Kramer melakukan sebuah tindakan untuk menghindari kerugian. Ia menjual porsi saham perusahaan yang dimilikinya, yakni sekitar 97.849 lembar di rentang waktu 15 Januari hingga 26 Februari 2021. Nilai saham yang dimilikinya itu mencapai US$ 11,1 juta atau sekitar Rp 160 miliar (kurs Rp 14.494).

Dilansir dari CNN, Selasa (27/4/2021), menurut data Securities and Exchange Commission, Kramer menjual sahamnya dengan harga mulai dari US$ 93,49 atau sekitar Rp 1,35 juta, hingga US$ 123,45 atau sekitar Rp 1,79 juta per saham. Jika dirata-ratakan maka harganya US$ 113,73 atau sekitar Rp 1,64 juta per lembar saham.

Dengan terbitnya laporan bahwa pabrik Emergent di Baltimore merusak 15 juta dosis vaksin tersebut, harga saham perusahaan anjlok ke level US$ 61,94 atau sekitar Rp 898 ribu per lembar pada perdagangan akhir pekan lalu. Dengan demikian, Kramer berhasil menghindari nilai yang turun tajam tersebut, dan ia memperoleh keuntungan terbesar dari penjualan sahamnya pada 9 Februari 2021 lalu.

Sebenarnya, penjualan saham pertamanya sudah diberitakan oleh Washington Post. Namun, kala itu perusahaan berdalih.

"Tuan Kramer, tim eksekutif kami, dan dewan direksi kami berpegang pada standar etika tertinggi dan mengikuti kepatuhan ketat terhadap semua hukum dan peraturan yang mengatur transaksi keuangan. Setiap pemberitaan tentang kesalahan perusahaan tidak memiliki bukti atau dasar," tulis pernyataan perusahaan.

Saham yang dijual sesuai dengan rencana yang diberlakukan Kramer pada November, menurut pengajuan dan juru bicara perusahaan. Perusahaan mengklaim rencana semacam itu umum bagi para eksekutif yang ingin menjual saham secara bertahap. Sehingga, menurut perusahaan, waktu dan motivasi Kramer menjual sahamnya tidak dapat dipertanyakan.

Namun, New York Times melaporkan pada awal April, berdasarkan informasi dari seorang pejabat pemerintah dan mantan supervisor perusahaan permasalahan produksi vaksin di pabrik Baltimore sudah terjadi sejak Oktober 2020 lalu.

Kramer telah menjual sebagian besar sahamnya sejak Januari lalu. Kini, ia hanya memiliki 163.147 saham yang tersisa. Kepemilikannya telah berkurang sekitar sepertiganya.

Simak video 'Johnson & Johnson Buang 15 Juta Dosis Vaksin karena Salah Bahan':

[Gambas:Video 20detik]



(vdl/zlf)