Daripada Jagain Lilin Babi Ngepet, Mending Pantengin Lilin yang Ini

Danang Sugianto - detikFinance
Rabu, 28 Apr 2021 18:30 WIB
lilin aromaterapi estetik
Foto: Dok. Indodax: Grafik lilin atau candlestick
Jakarta -

Belakangan ini publik dihebohkan dengan penangkapan seekor babi di Bedahan, Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat (Jabar). Babi itu diduga makhluk jadi-jadian yang mencuri uang warga alias babi ngepet.

Babi ngepet menjadi mitos di masyarakat, yang merupakan ilmu hitam untuk mendapat kekayaan instan. Dalam mitos tersebut diceritakan saat babi ngepet keliling kampung harus ada rekan yang menjaga lilin yang ditempatkan di tengah baskom berisi air.

Jika lilin bergoyang atau meredup tandanya si babi ngepet dalam bahaya dan harus segera dimatikan agar dia kembali ke wujud manusia. Yang jelas, namanya mitos, percaya nggak percaya tergantung urusan masing-masing.

Nah, di sisi lain, ada nih kegiatan pantengin lilin yang bisa mendatangkan cuan. Namanya candlestick alias grafik yang bentuknya seperti lilin.

Melansir Investopedia, Rabu (28/4/2021), candlestick merupakan salah satu grafik yang menunjukkan pergerakan harga saham. Selain untuk harga saham, candlestick juga dipakai untuk memantau pergerakan forex hingga uang kripto.

Menengok sejarahnya, pola Candlestick berawal dari Jepang dan berusia lebih dari 100 tahun, jauh sebelum negara barat mengembangkan bagan batang. Pada tahun 1700-an, seorang pria Jepang bernama Homma menemukannya berdasarkan harga, penawaran dan permintaan beras saat itu.

Candlestick saat itu digunakan untuk menunjukkan emosi para pedagang pasar dengan merepresentasikan secara visual ukuran pergerakan harga beras.

Sama seperti grafik batang, candlestick mengandung komponen yang menunjukkan harga saham pada saat pembukaan, harga tertinggi, harga terendah, dan harga pada saat penutupan pasar.

Oleh karena itu bentuk candlestick ada garis kecil seperti sumbu di atasnya sebagai titik harga paling tinggi. Kemudian di tengahnya bentuk mengotak sebagai gambaran rentang pergerakan harga saat itu. Lalu di bawahnya ada garis seperti sumbu juga yang menunjukkan harga penutupan dan rentang terendah. Semakin besar kotak di bagian tengah artinya semakin lebar rentang pergerakan saham saat itu.

Candlestick digambarkan dalam dua warna, misalnya warna biru dan merah. Jika tubuh candlestick berwarna biru artinya harga saham saat itu bergerak naik, lalu jika merah artinya turun.

Lalu untuk sumbu, jika sumbu atas pendek dan mendekati tubuh candlestick artinya harga tertinggi dari pergerakan saham hari itu hampir sama dengan harga pembukaan. Jadi jika sumbu atas semakin panjang berarti harga tertinggi dari pergerakan saham saat itu jauh lebih tinggi dari harga pembukaan.

Sementara jika sumbu bawah pendek artinya harga saham di saat penutupan pasar hampir sama dengan harga terendah dari pergerakan saham di hari itu. Jika sumbu bawah panjang artinya harga saham saat penutupan pasar jauh lebih tinggi dari harga terendah saham dalam rentang pergerakan di hari itu.

Nah ketika sudah memahami candlestick para investor bisa membaca pergerakan saham yang membentuk berbagai macam pola. Dari situ investor bisa menentukan langkah yang akan diambil dari saham yang dia incar.

Berbagai pola yang muncul dari candlestick di antaranya, pola bearish engulfing, pola bullish engulfing, pola bearish evening star, pola bearish harami, pola bullish harami, pola bearish harami cross, pola bullish harami cross, pola bullish rising three dan pola bearish falling three.

(das/hns)