Astra Otoparts Andalkan Winteq Jadi Motor Rekayasa Mesin RI
Rabu, 08 Mar 2006 19:08 WIB
Jakarta - PT Astra Otoparts Tbk, meluncurkan Winteq (workshop for industrial equipment), yang merupakan perintis rekayasa industri permesinan otomotif.Komponen industru yang selama ini di impor diharapkan dapat dialihkan ke Winteq yang akan memasok kebutuhan mesin industri otomotif dengan harga sepertiga lebih murah. Winteq diprediksi dapat menghemat pengeluaran devisa US$ 2 Miliar per tahunnya yang merupakan nilai impor industri penunjang.Untuk investasi tahap awal, Astra Otoparts akan mengeluarkan modal kerja Rp 20 miliar yang sudah direalisasikan Rp 5 Miliar."Investasi ini untuk teknologi mould & dies, Jigs & fixtures, cutting tool dan lain lain," kata Direktur PT Astra Otoparts Tbk Gustav A Husein saat peresmian Winteq di Pabrik Astra Otoparts, kawasan Cibinong, Bogor, Rabu (8/3/2006).Gustav mengaku, hingga saat ini sudah ada 39 unit pesanan dengan senilai Rp 10,7 miliar. Sementara 20 unit lainnya juga sudah siap di-delivery. Pesanan ini diantaranya datang dari perusahaan komponen Jepang PT Aisin Takaoka Indonesia, PT Federal Izumi MFG, PT Federal Nittan Industries, PT FSCM Manufacturing Indonesia dan PT Astra Otoparts divisi adiwira plastik.Menurut Gustav, Winteq tidak bermaksud menguasai pembuatan seluruh mesin tapi lebih sebagai penetrasi pasar. Pasalnya, sektor permesinan sulit dapat reputasi pasar karena pembeli mesin sangat rasional dan sangat hati-hati."Rencananya investasi tiga tahap penetrasi kompetensi dan industri untuk ini akan dibangun pabrik baru dengan tambahan investasi," tambah Gustav. Produk-produk Winteq meliputi gravity casting machine, Bush Forming Machine, Heating Up Setter Machine, Automatic Baring Machine, Auto Lache Machine, CNC Lathe Machine, Auto Milling Machine, Automatic Horizontal Drilling Machine, Automatic Vertical Drilling Machine.Sementara Dirjen Industri Logam mesin tekstil dan aneka (ILMTA), Ansari Bukhari menambahkan, industri permesinan merupakan tulang punggung bagi industri nasional.Sehingga dalam 5 tahun terakhir impor permesinan meningkat tinggi impor yang pada tahun 2000 sebesar US$ 2,7 miliar dan pada tahun 2005 sebesar US$ 6 miliar. Sementara ekspor di tahun 2000 sebesar US$ 1,2 miliar US$ dan pada tahun 2005 menjadi US$ 1,6 miliar. Kondisi ini membuat defisit US$ 4 miliar hanya di sektor permesinan.
(ir/)











































