Semen Gresik Stop Kenaikan Harga

Semen Gresik Stop Kenaikan Harga

- detikFinance
Kamis, 09 Mar 2006 15:09 WIB
Jakarta - PT Semen Gresik Tbk (SMGR) kemungkinan tidak akan lagi menaikkan harga semen pada 2006. Pasalnya, kenaikan harga yang dilakukan perseroan tahun lalu sudah bisa menutupi kemungkinan lonjakan biaya produksi tahun ini.Tahun 2005 Semen Gresik sudah menaikkan harga jual sebesar 17 persen akibat kenaikan biaya produksi sebesar 12 persen karena kenaikan harga BBM. "Artinya tidak ada lagi kenaikan biaya produksi kecuali kalau tarif dasar listrik (TDL) naik," kata Direktur Keuangan Semen Gresik, Cholil Hasan dalam konferensi pers di salah satu restoran di Kawasan SCBD, Jakarta, Kamis (9/3/2006). Menurut Cholil, walaupun akan ada peningkatan biaya produksi khususnya energi, kenaikan tersebut tidak bisa diatasi dengan menaikkan harga jual. Hal ini karena peningkatan harga jual berpotensi menurunkan permintaan."Tidak bisa disikapi dengan menaikkan harga terkait daya beli masyarakat yang makin menurun akibat beban hidup masyarakat yang meningkat belakangan ini," ujar Cholil.Untuk menyiasati kenaikan biaya energi yang memiliki porsi 40 persen dari biaya produksi, perseroan, ujar Cholil akan melakukan efisiensi. Efisiensi yang akan dilakukan antara lain beralih dari energi minyak dan listrik ke batubara. Selain itu, perseroan akan mengoptimalisasi distribusi dan transportasi.Cholil juga berharap, pemerintah bijak dalam mengeluarkan keputusan pengenaan cukai pada semen. Dirinya menilai, pengenaan cukai ini justru akan membebani konsumen di banding produsen."Produk semen diharapkan jangan dibebani cukai karena akan memberikan beban bagi konsumen. Padahal konsumen sudah terbebani dengan kenaikan harga jual tahunlalu," tambah Cholil.Pabrik BaruDalam jangka panjang, perseroan juga berencana membangun pabrik baru untuk mengatasi kapasitas produksi yang sudah hampir penuh. Kajian mengenai pembangunan pabrik tersebut diharapkan bisa selesai akhir bulan ini.Kajian tersebut akan menentukan jumlah pabrik yang akan dibangun beserta lokasinya. Diperkirakan dana yang dibutuhkan untuk membangun satu pabrik berkapasitas 2,5 juta ton per tahun mencapai Rp 3 triliun."Rencananya dananya akan berasal dari internal sebesar 30 persen, sedangkan sisanya bisa dari penerbitan obligasi, kredit bank, kredit ekspor atau paduan dari ketiganya," tambah Cholil.Sedangkan untuk lokasi, kemungkinan perseroan akan membangun pabrik di pulau Jawa. Pasalnya, permintaan terbesar berada di pulau Jawa dan biaya transportasi termurah dari produsen ke konsumen tidak akan terlalu besar."Penentuan lokasi berdasarkan daerah yang memiliki permintaan terbesar dan yang biaya transportasinya paling murah, misalnya di Tuban kan biaya transportasinya kecil karena pabrik dekat dengan konsumen," ujar Cholil.Pabrik tersebut rencananya baru akan mulai berproduksi paling cepat 30 bulan setelah dimulainya pembangunan. Perseroan mengharapkan pabrik baru tersebut bisa selesai tahun 2008. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads